Contoh Paragraf Narasi : Pengalaman Pribadi, Fiksi, Lingkungan Dan Pendidikan

Paragraph narasi merupakan paragraf yang berisi sebuah cerita bisa berupa karangan (fiksi) maupun cerita yang pernah dialami (pengalaman) yang disajikan berdasarkan urutan waktu sehingga pembaca akan merasa ingin tahu akhir cerita sehingga meneruskan untuk membaca terus. Paragraf narasi mampu mengembangkan imajinasi para pembaca seolah-olah berada dalam cerita tersebut.

Macam Contoh Paragraf Narasi :

Contoh Paragraf Narasi Berdasarkan Pegalaman Pribadi

Aku ingat kala bulan Ramadan tahun lalu, ketika malam tiba, aku berbenah dan mempersiapkan barang-barang kebutuhanku untuk perjalanan panjang esok paginya. Selesai menyelesaikan ibadah shoat tarawih, tas ransel dan segala kebutuhan sudah siap di dekat tempat tidur. Besok pagi adalah perjalanan panjang pulang kampung pertama yang kulakukan sendiri. aku memilih menggunakan kereta dari Yogykarta sampai Banyuwangi yang membutuhkan waktu sekitar 14 jam lamanya.

Ini bukanlah kali pertama ku melakukan perjalanan panjang, namun ini kali pertama ku melakukan perjalanan panjang seorang diri. Rasa takut sering kali hinggap di benakku tatkala mengingat bahwa kereta sampai di stasiun terakhir pada jam 22:00 WIB. Mungkin bagi yang sudah terbiasa dengan perjalanan malam dan sendirian akan merasa aman-aman saja, namun tidak denganku.

Pagi harinya aku berangkat ke stasiun, ditemani dengan secuil keberanian yang kadang menghilang seiring dengan laju dan bunyi klakson kereta. Aku sebelumnya tak tahu tentang dan bagaimana menumpangi kereta api. Aku juga tak tahu bagaimana wujud stasiun terakhir dimana kereta ku berhenti nantinya. Yang ku tahu hanya satu, aku sedang dalam perjalanan pulang dan aku masih yakin bahwa aku akan pulang dengan selamat.

Di dalam kereta, pikiran ku terus berkecamuk. Antara bahagia karena akan segera bertemu dengan keluarga dan sesekali pikiran negatif tidak bisa aku hindari. Bagaimana jika di stasiun nanti tidak ada transportasi karena aku tiba sudah terlalu malam? Dimana aku harus menginap jika memang tidak ada transportasi. Apakah di dekat stasiun ada penginapan yang aman untuk orang asing seperti ku? Entahlah yang jelas rel kereta api masih sangat panjang.

14 jam yang sangat membosankan dan meresahkan berlalu. Kulihat sekelilingku yang tadinya bangku kereta dipenuhi penumpang kini hanya beberapa orang saja. Aku semakin tak yakin apakah salah satu dari penumpang ada yang ingin melanjutkan perjalanan menyeberangi pulau Jawa seperti ku. Aku memberanikan diri bertanya pada setiap penumpang, hasilnya semakin mengkhawatirkan bahwa tidak satupun dari mereka yang akan menyebrang ke Bali.

Sesampai di stasiun terakhir aku mencoba tidak terlihat takut dan gugup, karena semakin aku takut semakin sulit otak ku berpikir menemukan solusi terbaik. Hingga akhirnya aku keluar dari pintu kedatangan stasiun. Aku begitu tercengang pasalnya sudah banyak tukang becak dan tukang ojek yang menawari jasanya. Aku sedikit lega, sampai akhirnya tukang becak tersebut mengantar tepat sampai dermaga kapal yang akan menyeberang. Aku merasa bersyukur karena masih bisa dipertemukan dengan orang-orang baik hati yang disisakan Tuhan.

Contoh Paragraf Narasi Fiksi

Dahulu kala hiduplah seorang kakak beradik yatim piatu. Kedua orang tua mereka telah meninggal dunia dan kini mereka hidup sebatang kara. Bersama adiknya yang baru bisa berjalan, sang kakak hidup serba kekurangan. Ia harus mencari kayu bakar di hutan dan menukarkan kayu dengan beras untuk makan. pekerjaan tersebut merupakan satu-satunya yang bisa dilakukan oleh sang kakak.

Pagi harinya seperti biasa, sang kakak meninggalkan adiknya yang masih berada di tempat tidur untuk mencari kayu bakar dan beberapa buah di hutan. Biasanya sepulang dari mencari kayu bakar, sang kakak akan menemukan adiknya terbangun sembari menangis kemudian membawa serta adiknya bersama hasil buruannya di hutan ke pasar untuk menukarkan dengan beras dan beberapa kebutuhan hidup lainnya.

Alangkah terkejutnya sang kakak ketika sepulang mencari kayu bakar, pintu rumah sudah terbuka dan si adik sudah tidak ada di tempat tidur. Ia mencari ke seluruh penjuru rumah hingga akhirnya dari pintu belakang tampak sehelai kain dari baju yang digunakan sang adik yang dibaluri bercak darah. Sang kakak kebingungan ada apa gerangan dengan si adik. Tak lama kemudian dari belakang pintu terdengar suara lolongan binatang buas.

Seekor srigala telah memangsa adik kesayangan sang kakak. Kini sang kakak hanya bisa menangis menyesal telah meninggalkan adiknya seorang diri dan lupa mengunci pintu rumah. Disela-sela tangisannya, ia mengingat cerita almarhum orang tuanya. Di balik gunung di hutan tempat biasanya sang kakak mencari kayu bakar, hiduplah seekor naga yang memiliki air mata ajaib.

Air mata naga tersebut mampu menghidupkan si adik apabila air mata tersebut di teteskan di atas serpihan kain bekas darah si adik. Sang kakak kemudian berlari se kencang-kencangnya membawa helai kain tersebut melewati hutan belantara. Ia tidak peduli dengan bahaya ataupun binatang buas yang mengancam nyawanya. Baginya, percuma saja ia selamat dan hidup di dunia namun hanya seorang diri.

Di tengah-tengah perjalanan, ia kembali teringat bahwa naga tersebut tidak akan mengeluarkan air mata begitu saja. Oleh sebab itu, selama perjalanan ia terus memikirkan bagaimana caranya membuatsang naga mengeluarkan air matanya tanpa harus melukai sang naga. Ia tak memiliki bekal atau harta apapun untuk ditukarkan kepada naga. Ia juga tidak memiliki senjata yang akan digunakan untuk melawan agar naga tersebut terluka dan menangis. Namun hal tersebut tidak menghentikan langkah sang kakak.

Sesampai di balik gunung, ia melihat sebuah gua raksasa. Tidak salah lagi, itu adalah gua tempat persembunyian naga tersebut. Ternyata cerita almarhum orang tuanya benar, naga tersebut ada. Perlahan sang kakak masuk menuju ke dalam gua. Tampak dari luar seekor naga rasasa sedang tertidur. Melihat keberadaan naga tersebut, ia terkejut dan mengeluarkan suara yang membuat sang naga terbangun.

Sang naga murka kepadanya. Ketika naga hendak menyerang, ia menunduk sambil menangis dan mengeluarkan helai kain yang terbalur darah milik si adik. Sang naga tidak melanjutkan menyerang dan memperhatikan sang kakak. Kemudian sang kakak mengutarakan maksud dan tujuan ia datang ke mari. “Saya tidak bermaksud mengganggu tidurmu wahai naga yang baik hati, saya hanya kebingungan dan bersedih. Beberapa minggu yang lalu kedua orang tuaku meninggal dan aku hidup sebatang kara berdua dengan adik yang baru berusia 1 tahun. Akan tetapi pagi ini, adikku dimangsa srigala buas dan kini aku benar-benar hidup sendiri. Jika memang kau ingin memangsaku, aku bersedia menjadi santapanmu asalkan kau mau menghidupi adikku dengan air mata ajaibmu”.

Mendengar kejujuran sang kakak, naga ajaib tersebut hanya bisa terdiam dan seketika mengeluarkan air matanya. Kemudian sang kakak denga sigap menyodorkan kain yang terbalur darah adiknya. Seketika darah tersebut berubah menjadi sebongkah daging dan tergeletaklah tubuh si adik yang sedang menangis. Sang kakak lalu menggendong adiknya dan berkata kepada si naga.

“kau telah mengabulkan permintaanku, sekarang izinkan aku kembali ke rumah dan menitipkan adikku ke tetangga kemudian aku akan kembali dan kau bisa menyantap ku”. Mendengar ucapan keberanian dan kejujuran sang kakak, naga tersebut kemudian kembali mengeluarkan air mata dan berkata “Pulanglah !, aku tidak ingin memakan anak baik sepertimu”.

Karena sang naga merasa prihatin dengan keadaan kedua kakak beradik yatim piatu tersebut, maka sang naga membiarkan sang kakak pergi membawa dan merawat adiknya. Tidak hanya itu, karena kejujuran sang kakak, naga menghadiahi sisik emas kepada sang kakak. Sang kakak berterimakasih kepada naga ajaib kemudian sang kakak pamit dan berlari membawa pulang si adik di dalam gendongannya.

Paragfar Narasi Tentang Lingkungan

Di saat musim hujan seperti saat ini, sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan agar nyamuk penyebab demam berdarah tidak berkembang biak. Cara menjaga lingkungan agar tetap bersih adalah memulai dari dalam rumah. Perhatikan setiap ruangan rumah yang berpotensi sebagai tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

Misalnya seperti di dalam bak air kamar mandi, tempat mencuci piring di dapur, di bawah tempat tidur ranjang, dan di ruangan gelap serta lembab lainnya. Oleh sebab itu sangat penting untuk memperhatikan genangan air dalam bak mandi, genangan air bekas mencuci piring, dan air di dalam akuarium jika memiliki akuarium hias di rumah. Selain itu makanan bekas juga berpotensi menarik perhatian nyamuk.

Hindari menyisakan makanan apapun bentuknya, terutama sisa makanan yang mudah membusuk. Usahakan tidak menumpuk atau menggantung pakaian kotor berhari-hari. Pakaian kotor juga menjadi sarang yang menarik bagi nyamuk. Gunakan pengharum ruangan atau bahan alami lainnya yang tidak disukai nyamuk seperti kulit jeruk dan bunga lavender untuk mengusir nyamuk secara alami.

Buka jendela sekali sehari agar sinar matahari yang segar masuk ke dalam ruangan untuk menghindari suasana pengap pada ruangan. Bersihkan area perabotan rumah yang berpotensi mengundang nyamuk seperti di bawah meja, di bawah sofa, di belakang lemari, dan bagian lain yang berpotensi dapat digunakan nyamuk untuk bersembunyi.

Setelah ruangan di dalam rumah dibersihkan dan jentik nyamuk dijamin tidak akan berkembang biak, selanjutnya memperhatikan kondisi halaman sekitar rumah. Jangan biarkan sampah menumpuk lama. Usahakan sampah segera dibuang atau dikubur. Sampah yang lembab dan beraroma busuk sangat menarik perhatian nyamuk.

Pastikan tanaman liar atau semak belukar di halaman rumah tidak tumbuh. Kemudian jangan menyimpan barang-barang yang tidak diperlukan di dalam gudang. Tumpukan barang tersebut tidak hanya berpotensi menjadi sarang nyamuk, tetapi juga sarang bagi serangga pengganggu lainnya. Jika memang semua barang masih diperlukan, simpan dengan rapi dan susun secara terurut sehingga tidak meninggalkan ruang-ruang kecil dan gelap dimana serangga biasanaya berkembang biak.

Dengan cara sederhana tersebut diharapkan dapat membantu dalam mengurangi populasi nyamuk yang begitu cepat disaat musim hujan dan mengurangi risiko terserang penyakit demam berdarah akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Selain itu, rumah yang bersih dan rapi juga menambah kenyamanan para penghuninya.

Contoh Kalimat Narasi Tentang Pendidikan

Belajar tidak selamanya di sekolah. Mind-set masyarakat tentang belajar di sekolah sudah begitu melekat dan berakar sehingga jika tidak di sekolah maka tidak disebut belajar. Konstruksi sosial seperti itu yang seharusnya dihilangkan dari budaya sosial kita. Belajar bisa dilakukan dimana pun dan kapanpun. Belajar tidak melulu melibatkan guru dengan murid.

Penelitian membuktikan bahwa seseorang yang belajar secara otodidak, tanpa seorang guru yang mengajarkan, akan memiliki kemampuan dalam menguasai pelajaran lebih dalam daripada seseorang yang belajar di bawah tekanan seorang guru atau pengajar. Selain itu, seseorang yang belajar secara santai di luar ruangan sekolah, artinya mereka belajar dengan alam sembari menikmati waktu bersantai akan lebih menguatkan ingatan daripada seseorang yang hanya menyaksikan papan tulis dan mendengar penjelasan guru.

Selain itu, belajar otodidak mampu menyesuaikan terhadap bakat dan minat seorang siswa. Jika dalam sekolah mereka dituntut untuk menguasai beberapa pelajaran yang ditetapkan oleh sekolah, yang dimana salah satu dari pelajaran tersebut mungkin bukan merupakan minat dan bakat siswa tersebut. belajar otodidak dapat memilih mana pelajaran yang merupakan minat dan bakat seorang siswa.

Hal tersebut bukan berarti peran guru dan sekolah tidak diperhitungkan. Guru dan sekolah lebih berperan sebagai pembentukan moral siswa didikannya. Di dalam lingkungan sekolah dari level terendah seperti Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan seterusnya, para siswa dituntut untuk selalu menaati aturan sekolah.

Hal tersebut akan menumbuhkan pola perilaku disiplin dalam diri seseorang. Selain itu, para siswa harus selalu menghormati guru dimana aturan tersebut tidak hanya sebagai aturan wajib akan tetapi sebagai sarana dalam menumbuhkan rasa hormat dan rasa menghargai di dalam diri para siswanya. Itulah sebabnya mengapa sekolah dan guru dikatakan sebagai wadah pembentuk moral siswa-siswi.

Itu sebabnya mengapa belajar yang paling optimal tidak melulu di sekolah dan hanya memandang papan tulis serta mendengar penjelasan guru, tapi dimana saja dan dengan cara apa saja. Karena ilmu itu tersebar di seluruh sudut dunia ini menunggu untuk dipelajari, bukan hanya di dalam ruang kelas. Mulailah mengenalkan segala sesuatu di sekitar sebagai sebuah ilmu bukan sebuah benda.

error: This content is protected by DMCA