Pengertian Osteoporosis : Gejala, Penyebab, Faktor Resiko, Diagnosis dan Pengobatan

Jagad.id – Osteoporosis merupakan kondisi kepadatan tulang yang berkurang sehingga tulang lebih rentan patah serta keropos. Biasanya, osteoporosis tidak menimbulkan gejala dan baru akan diketahui pada saat penderita terjatuh atau cedera yang menyebabkan patah tulang.

Osteoporosis bisa terjadi pada anak anak dan orang dewasa, akan tetapi biasanya lebih sering terjadi untuk wanita yang sudah masuk masa menopause. Ini bisa terjadi sebab kadar estrogen yang penting untuk menjaga kepadatan tulang sudah mulai berkurang.

Gejala Osteoporosis

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, osteoporosis memang tidak menimbulkan gejala sebab baru akan diketahui ketika seseorang mengalami cedera. Jika kepadatan tulang mulai berkurang, maka penderita mulai merasakan beberapa gejala, seperti:

  1. Postur tubuh yang mulai membungkuk.
  2. Lebih rentan patah tulang meski hanya terbentur ringan.
  3. Mengalami nyeri punggung.
  4. Tinggi badan mulai berkurang.

Penyebab Osteoporosis

Osteoporosis bisa terjadi karena kemampuan tubuh dalam meregenerasi tulang sudah berkurang yang berdampak ke kepadatan tulang. Menurunnya kemampuan tersebut umumnya akan mulai terjadi saat memasuki usia 35 tahun. Selain itu, ada beberapa penyebab yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis, seperti:

  1. Wanita yang sudah masuk masa menopause.
  2. Mempunyai keluarga dengan riwayat osteoporosis.
  3. Kekurangan kalsium serta vitamin D.
  4. Memiliki gangguan hormonal serta penyakit tertentu seperti melabsorbsi serta penyakit Crohn.
  5. Pecandu alkohol.
  6. Sedang mengonsumsi obat kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama.
  7. Perokok.

Faktor Risiko Osteoporosis

Osteoporosis bisa terjadi karena berbagai faktor risiko yang dimiliki seseorang dan sebenarnya beberapa diantaranya bisa diubah mulai dari sekarang meski sebagian lagi akan sulit atau tidak bisa diubah sama sekali. Berikut adalah beberapa faktor risiko dari osteoporosis:

  1. Jenis kelamin: Wanita umum lebih banyak terkena osteoporosis jika dibandingkan dengan wanita.
  2. Usia: Jika usia semakin bertambah, maka risiko terkena osteoporosis akan semakin tinggi terhitung dari memasuki usia 30 tahun khususnya wanita yang sudah menopause.
  3. Hormon tubuh: Ketika hormon dalam tubuh wanita yakni estrogen sudah mulai berkurang, maka tulang akan semakin sulit untuk membentuk struktur serta jaringan baru. Sementara untuk pria, kadar hormon testosteron yang berkurang juga menjadi penyebab pengeroposan tulang terjadi.
  4. Ukuran tubuh: Pria serta wanita yang memiliki tubuh kurus dan kecil akan lebih tinggi risikonya mengalami osteoporosis. Namun untuk pria dan wanita yang memiliki tubuh lebih besar, maka risiko mengalami osteoporosis cukup rendah.

Faktor Risiko Osteoporosis yang Tidak Bisa Diubah

Selain beberapa faktor risiko diatas, ada beberapa faktor risiko lain yang tidak bisa diubah, berikut beberapa diantaranya:

  1. Anoreksia nervosa: Gangguan makan dan membatasi makan yang bisa semakin membuat tulang lemah kemudian mengakibatkan osteoporosis.
  2. Kurang kalsium dan vitamin D: Melakukan diet rendah vitamin D serta kalsium yang kemudian menyebab tulang semakin mudah keropos.
  3. Mengonsumsi obat obatan: Ada beberapa jenis obat yang bisa meningkatkan risiko osteoporosis seperti antidepresan, kortikosteroid, agen kemoterapi dan lainnya.
  4. Kurang olahraga: Seseorang yang malas berolahraga, terlalu banyak santai atau berbaring bisa mengakibatkan tulang keropos sebab kehilangan kekuatan dan semakin lemah. Saat sel tulang rusak, maka kepadatan tulang juga semakin lemak sehingga semakin mudah rapuh dan keropos.
  5. Merokok: Tidak hanya buruk untuk paru paru serta jantung, merokok juga bisa mengurangi tingkat kepadatan tulang. At kimia dalam rokok akan perlahan merusak sel tubuh termasuk sel tulang.

Diagnosis Osteoporosis

Biasanya. Osteoporosis baru bisa terdeteksi ketika penderita cedera kemudian mengalami patah tulang. Ketika ingin mendiagnosis osteoporosis, maka dokter akan bertanya jawab tentang gejala dan keluhan yang dirasakan pasien termasuk juga riwayat kesehatan serta obat apa saja yang sedang dikonsumsi.

Apabila pasien memang mengalami cedera serta dicurigai menderita patah tulang, maka akan dilakukan pengukuran kepadatan tulang atau bone density testing memakai dual energy X-ray abdorptiometry yang disingkat DXA.

Pemeriksaan dengan sinar X tersebut berguna untuk mengukur kepadatan tulang yang umumnya akan dilakukan pada beberapa titik yang paling berisiko akan pengeroposan seperti pinggang, pergelangan tangan serta tulang belakang. Umumnya, tes dilakukan sekitar 10 hingga 30 menit dan tidak menyebabkan rasa sakit. Nantinya, pasien akan diminta berbaring di alas yang sudah disediakan dan sinar X akan diarahkan ke tubuh.

Selain itu, tes juga dilakukan dengan memeriksa darah serta urin untuk menilai kondisi tulang. Apabila mengalami osteoporosis, maka dokter akan menyarankan untuk pemeriksaan lanjutan sehingga tingkat kepadatan tulang bisa diukur.

Pengobatan Osteoporosis

Untuk pengobatan osteoporosis sendiri akan diberikan tergantung dari tingkat keparahan pasien. Apabila penderita berisiko patah tulang, maka dokter biasanya akan memberikan obat untuk menambah kepadatan tulang seperti:

  1. Antibodi monoklonal.
  2. Bifosfonat.
  3. Terapi hormon.
  4. Jika memang dibutuhkan, maka akan diberikan obat untuk meningkatkan proses pembentukan tulang seperti abaloparatide serta teriparatide.

Selain itu, terapi hormon juga bisa dilakukan yakni terapi pergantian testoteron untuk pria dan juga progesteron untuk wanita. Selain itu, pastikan juga asupan vitamin D dan kalsium bisa terpenuhi yang bisa didapat dengan mengonsumsi produk susu rendah lemak, tahu, tempe, sayuran berdaun hijau gelap dan olahan kacang kedelai.