Peta Jogja : Sejarah dan Letak Lokasi Geografis

Daerah Istimewa Yogyakarta

Berbicara mengenai daerah istimewa Yogyakarta, mungkin yang pertama kali terbetik di hati adalah kota pelajar, Malioboro, wisata kuliner lesehan, dan nasi kucing. Tapi tahukah Anda, ternyata Yogyakarta memiliki kisah yang sangat panjang untuk diceritakan. Namun karena keterbatasan waktu, pada kesempatan kali ini kita akan meringkasnya menjadi lebih singkat namun tetap mengandung sejarah dan memiliki alur yang benar.

Sejarah

Kota yang terkenal dengan gudeg ini ternyata merupakan wilayah tertua kedua di Indonesia setelah Jawa Timur, yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian Indonesia. Berdirinya kota Yogyakarta bermula dengan ditandatanganinya sebuah perjanjian yang disebut dengan Perjanjian Gianti. Perjanjian tersebut ditandatangan pada tanggal 13 Februari 1755 oleh salah seorang Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh, atas nama Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Kota Yogyakarta tidak seperti kota kota di daerah Indonesia umumnya. Meskipun disebut dengan kota, daerah Yogyakarta memiliki kedudukan yang sederajat atau setingkat dengan provinsi, dan memiliki status istimewa atau otonomi khusus.

Sekitar 1568 – 1586 Masehi, di wilayah pulau Jawa bagian tengah, telah berdiri sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan seorang sultan, bernama Sultan Hadiwijaya. Dan kerajaan tersebut dikenal dengan nama Kerajaan Pajang. Semasa mudanya, Sultan Hadiwijaya dikenal dengan nama Jaka Tingkir. Singkat cerita, dalam sebuah pertikaian dengan Adipati dari Jipang   bernama Penangsang Sultan Hadiwijaya berhasil muncul sebagai pemenang. Dan saat itu, beliau dibantu oleh beberapa panglima perang, seperti : Ki Ageng Pemanahan dan Bagus Sutawijaya (putera kandung Ki Ageng Pemanahan) dan salah seorang Hangabehi yang bermukim di sebelah utara pasar.

Karena merasa berterima kasih kepada para panglima tersebut, Sultan Pajang yaitu Sultan Hadiwijaya menganugrahkan sebidang tanah yang luas yang disebut dengan Bumi Menataok. Sebidang tanah ini pun masih berupa hutan belantara, hingga seiring waktu, tanah bumi mentaok tersebut dibangun menjadi sebuah tanah perdikan.Sesurut Kesultanan Pajang, Putra angkat sultan yang bernama Bagus Sutawijaya, mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Mataram. Kerajaan ini ia dirikan diatas tanah Bumi Mentaok, dan kala itu ia pun mengangkat dirinya sebagai Raja dengan gelar penembahan Senopati.

Kemudian berlanjut, pada awal abad ke 18, saat itu Kerajaan Mataram berada dibawah kepemimpinan Sri Sunan Paku Buwono II. Dan setelah beliau mangkat, muncul pertikaian antara anggota keluarga kerajaan. Dimana salah seorang putra dan adik beliau terkena hasutan pihak Belanda yang berkuasa saat itu. Namun bersyukur, pertikaian saat itu dapat diredam dengan baik melalui sebuah perjanjian yang diberi nama Perjanjian Ginyanti. Perjanjian itu berlangsung pada tahun 1755. Adapun pokok utama didalam perjanjian ginyanti tersebut ialah pembagian kerajaan menjadi dua wilayah, yaitu:

  • Kerajaan Surakata Hadiningrat dibawah pemerintah putera Sunan Paku Buwono ke-III
  • Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan adik kandung Sri Sunan Paku Buwono ke-II yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I

Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat inilah yang kemudian lazim disebut sebagai Yogyakarta saat ini, dan biasa disingkat menjadi Jogja.

Lokasi Geografis

Lokasi kota Yogyakarta tepat berada di koordinat 7°48′5″S 110°21′52″E. Adapun batas wilayah administrative kota ini sebagai berikut:

  • Sebelah Utara : Kabupaten Sleman
  • Sebelah Timur : Kabupaten Bantul & Sleman
  • Sebelah Selatan : Kabupaten Bantul
  • Sebelah Barat : Kabupaten Bantul & Sleman

Luas kota Yogyakarta lebih kurang  sekitar 3.186 km², dengan jumlah penduduk sekitar 3,594 juta jiwa, berdasarkan sensus 2014. Badan kota Yogya berada di sebuah lembah tiga sungai. Nama nama sungai tersebut ialah :

  • Sungai Winongo
  • Sungai Code
  • Sungai Gajahwong

Suhu / iklim di kota Yogyakarta cenderung sedang, tidak panas juga tidak dingin. Biasanya berada pada angka 27,2°C. Curah hujan di kota Yogyakarta juga tergolong normal (kadang tinggi kadang rendah), biasanya berada pada angka antara 718 mm pertahun, sampai 2992,3 mm pertahun. Adapun wilayah yang kerap mengalami curah hujan rendah umumnya adalah Gunungkidul dan Bantul, sedangkan wilayah yang biasa mendapatkan curah hujan tinggi adalah wilayah Sleman.

Lokasi Wisata

Tidak hanya dikenal sebagai kotanya para pelajar, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota yang ramah bagi para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Tidak heran bila kita berkunjung ke Malioboro, kita akan dengan mudah menemukan orang orang bule yang sedang melakukan kunjungan wisata ke Jogja. Berikut dibawah ini 5 daftar tempat wisata alam paling terkenal di Yogyakarta.

  • Bukit Panguk Kediwung – Kediwung, Mangunan, Dlingo, Mangunan, Dlingo, Bantul
  • Hutan Mangrove Pasir Mendit Temon – Pasir Mendit, Jangkaran, Temon, Kabupaten Kulon Progo
  • Hutan Pinus Mangunan – Mangunan, Dlingo, Bantul
  • Air Terjun Kedung Pedut – Jatimulyo, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo
  • Kalibiru – Jalan Waduk Sermo, Kalibiru, Hargowilis, Kokap, Hargowilis, Kokap, Kabupaten Kulon Progo

Seperti biasa, sub judul lokasi wisata telah menutup pembahasan kita kali ini. Semoga data yang kami hadirkan dapat bermanfaat bukan para pembaca dimana pun anda berada. Tetap update informasi dan wawasan anda di Jagad.id. Dan jangan lupa, bantu share artikel kami bila anda merasa terbantu dengannya, sampai jumpa lagi dan terima kasih.