Zakat Penghasilan Perhitungan: Panduan Lengkap Cara Menghitung Zakat Penghasilan yang Benar dan Tidak Membingungkan

Fuad Aziz

Zakat Penghasilan Perhitungan

JAGAD.ID – Gaji sudah masuk. Notifikasi transfer berbunyi. Lalu muncul satu pertanyaan yang sering terlintas, terutama bagi Muslim yang ingin tertib ibadah: sudahkah zakat penghasilan ditunaikan?

Di era pekerjaan modern—karyawan, ASN, dosen, dokter, freelancer, kreator digital—penghasilan datang dalam bentuk yang berbeda dari zaman dahulu. Tidak lagi berupa hasil panen atau perdagangan tradisional. Karena itu, pembahasan tentang zakat penghasilan perhitungan menjadi semakin relevan.

Masalahnya, banyak orang ingin membayar zakat, tetapi bingung cara menghitungnya. Apakah dari gaji kotor atau bersih? Bagaimana jika punya cicilan? Bagaimana jika penghasilan tidak tetap?

Artikel ini membahasnya secara menyeluruh, dengan bahasa yang mudah dipahami, contoh nyata, dan penjelasan yang runtut agar Anda bisa memahami cara menghitung zakat penghasilan tanpa ragu.


Apa Itu Zakat Penghasilan?

Zakat penghasilan—sering disebut zakat profesi—adalah zakat yang dikenakan atas pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau keahlian tertentu yang halal.

Pendapatan itu bisa berupa:

  • Gaji bulanan

  • Honorarium

  • Fee proyek

  • Komisi

  • Bonus

  • THR

  • Penghasilan jasa profesional

Meski istilah “zakat profesi” tidak secara eksplisit disebut pada masa klasik, para ulama kontemporer melakukan ijtihad berdasarkan prinsip zakat atas harta yang berkembang dan menghasilkan.

Landasan umumnya terdapat dalam Al-Qur’an, salah satunya QS. At-Taubah ayat 103 tentang perintah mengambil zakat dari harta.

Di Indonesia, panduan resmi mengenai zakat penghasilan juga dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia serta dikelola secara nasional oleh Badan Amil Zakat Nasional.


Mengapa Zakat Penghasilan Penting di Era Modern?

Dulu, kekayaan paling umum berupa ternak, emas, perak, dan hasil pertanian. Sekarang, sumber kekayaan terbesar adalah penghasilan profesi.

Jika zakat hanya dibatasi pada model ekonomi klasik, maka distribusi kekayaan akan timpang. Padahal, salah satu tujuan zakat adalah:

  • Membersihkan harta

  • Mengurangi kesenjangan sosial

  • Menguatkan solidaritas umat

  • Menggerakkan ekonomi mustahik

Di sinilah zakat penghasilan menjadi sangat relevan.


Nisab Zakat Penghasilan: Batas Minimal Wajib Zakat

Apa Itu Nisab?

Nisab adalah batas minimal harta yang membuat seseorang wajib membayar zakat.

Untuk zakat penghasilan, nisabnya disamakan dengan nisab emas, yaitu setara 85 gram emas.

Jika harga emas misalnya Rp1.200.000 per gram, maka:

85 gram × Rp1.200.000 = Rp102.000.000 per tahun

Artinya, jika total penghasilan dalam satu tahun mencapai atau melebihi Rp102 juta, maka wajib zakat.


Nisab Tahunan atau Bulanan?

Ada dua pendekatan yang umum dipakai.

1. Pendekatan Tahunan (Haul)

Penghasilan dikumpulkan selama satu tahun, lalu dihitung totalnya. Jika mencapai nisab, keluarkan zakat 2,5%.

2. Pendekatan Bulanan

Jika penghasilan per bulan sudah setara 1/12 nisab tahunan, maka zakat bisa langsung dibayarkan setiap bulan.

Pendekatan bulanan lebih praktis dan membuat ibadah terasa ringan karena tidak menumpuk.


Zakat Penghasilan Perhitungan: 2,5% dari Apa?

Besaran zakat penghasilan adalah 2,5%.

Namun muncul pertanyaan krusial:

Dihitung dari gaji kotor atau gaji bersih?

Jawabannya tergantung pendekatan yang dipilih.


Cara Menghitung Zakat Penghasilan Secara Praktis

Mari kita bahas langkah demi langkah agar lebih mudah.

Langkah 1: Hitung Total Penghasilan

Masukkan semua komponen penghasilan:

  • Gaji pokok

  • Tunjangan

  • Bonus

  • Fee tambahan

  • THR

Jika memilih pendekatan tahunan, jumlahkan selama 12 bulan.


Langkah 2: Tentukan Metode Perhitungan

Ada dua metode yang sering digunakan.

Metode 1: Dari Gaji Kotor

Ini metode paling sederhana dan aman.

Contoh:

Gaji bulanan Rp12.000.000
Zakat = 2,5% × 12.000.000
Zakat = Rp300.000 per bulan

Metode ini tidak mengurangi kebutuhan atau cicilan.


Metode 2: Dari Penghasilan Bersih

Sebagian ulama membolehkan mengurangi kebutuhan pokok terlebih dahulu.

Contoh:

Gaji Rp12.000.000
Kebutuhan pokok Rp7.000.000
Sisa Rp5.000.000

Zakat = 2,5% × 5.000.000
Zakat = Rp125.000

Metode ini mempertimbangkan kemampuan riil setelah kebutuhan dasar terpenuhi.


Contoh Zakat Penghasilan Perhitungan Nyata

Agar lebih jelas, mari gunakan beberapa skenario.


Contoh 1: Pegawai dengan Gaji Rp8 Juta

Gaji tahunan:
Rp8.000.000 × 12 = Rp96.000.000

Jika nisab tahunan Rp102 juta, berarti belum wajib zakat secara tahunan.

Namun tetap dianjurkan untuk bersedekah.


Contoh 2: Pegawai Gaji Rp15 Juta per Bulan

Penghasilan tahunan:
Rp15.000.000 × 12 = Rp180.000.000

Karena melebihi nisab, maka:

Zakat bulanan:
2,5% × 15.000.000 = Rp375.000

Atau tahunan:
2,5% × 180.000.000 = Rp4.500.000


Contoh 3: Freelancer Penghasilan Tidak Tetap

Bulan 1: Rp20 juta
Bulan 2: Rp4 juta
Bulan 3: Rp10 juta

Jumlahkan total selama setahun.

Jika total setahun Rp150 juta, maka:

Zakat = 2,5% × 150 juta
Zakat = Rp3.750.000

Pendekatan tahunan lebih cocok untuk penghasilan fluktuatif.


Apakah Cicilan Boleh Dikurangkan?

Pertanyaan ini sering muncul.

Ulama berbeda pandangan, namun secara umum:

  • Cicilan kebutuhan primer (rumah sederhana, biaya pendidikan wajib) bisa dipertimbangkan.

  • Cicilan konsumtif (gadget mahal, kendaraan mewah) tidak dianjurkan sebagai pengurang.

Prinsipnya sederhana: zakat tidak dimaksudkan memberatkan, tetapi juga bukan untuk mengakomodasi gaya hidup berlebihan.


Waktu Terbaik Membayar Zakat Penghasilan

Anda bisa memilih:

  • Setiap menerima gaji

  • Setahun sekali setelah dihitung totalnya

Membayar setiap bulan lebih praktis dan membuat hati lebih ringan.

Tidak perlu menunggu akhir tahun.


Di Mana Menyalurkan Zakat?

Zakat harus diberikan kepada 8 golongan (asnaf), sesuai QS. At-Taubah ayat 60.

Di Indonesia, Anda bisa menyalurkan melalui:

  • Badan Amil Zakat Nasional

  • Lembaga Amil Zakat resmi berizin Kementerian Agama

  • Langsung kepada mustahik yang memenuhi kriteria

Menyalurkan melalui lembaga resmi memudahkan pelaporan dan distribusi yang lebih merata.


Zakat Penghasilan dan Pajak: Apa Bedanya?

Sering kali muncul anggapan bahwa zakat sama dengan pajak.

Padahal berbeda.

Zakat adalah ibadah. Pajak adalah kewajiban kenegaraan.

Namun, dalam regulasi tertentu di Indonesia, zakat yang dibayarkan melalui lembaga resmi bisa menjadi pengurang pajak.

Artinya, ada integrasi antara kewajiban agama dan kewajiban negara.


Dampak Zakat terhadap Ekonomi Umat

Zakat bukan hanya soal angka 2,5%.

Jika dikelola optimal, zakat dapat:

  • Membiayai pendidikan dhuafa

  • Mengembangkan UMKM

  • Mengurangi angka kemiskinan

  • Membantu korban bencana

  • Membiayai layanan kesehatan gratis

Zakat adalah instrumen ekonomi sosial yang luar biasa kuat.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Beberapa kekeliruan umum:

  • Tidak tahu nisab terbaru

  • Menunda karena merasa belum kaya

  • Menghitung tanpa memahami konsep

  • Tidak memastikan lembaga resmi

  • Menganggap zakat hanya untuk pedagang

Padahal, memahami zakat penghasilan perhitungan secara benar membuat semuanya jauh lebih sederhana.


FAQ Seputar Zakat Penghasilan

1. Apakah zakat penghasilan wajib setiap bulan?

Tidak wajib setiap bulan, tetapi boleh dan lebih dianjurkan jika sudah mencapai nisab bulanan.

2. Bagaimana jika penghasilan naik turun?

Gunakan pendekatan tahunan agar lebih akurat.

3. Apakah THR wajib dizakati?

Ya, jika digabungkan dengan penghasilan lain hingga mencapai nisab.

4. Apakah zakat bisa ditransfer online?

Bisa, selama melalui lembaga resmi dan terpercaya.

5. Apakah zakat boleh diberikan kepada orang tua?

Tidak, jika mereka menjadi tanggungan wajib. Namun boleh kepada keluarga lain yang memenuhi kriteria mustahik.


Penutup: Zakat Bukan Beban, tapi Keberkahan

Memahami zakat penghasilan perhitungan bukan hanya soal teknis angka.

Ini soal komitmen. Soal keberanian berbagi. Soal keyakinan bahwa rezeki tidak akan berkurang karena zakat.

Sebaliknya, ia justru membersihkan, menumbuhkan, dan membawa keberkahan.

Jika penghasilan sudah mencapai nisab, keluarkan 2,5% dengan niat tulus. Jika belum, tetaplah bersedekah.

Karena pada akhirnya, zakat bukan sekadar kewajiban finansial. Ia adalah investasi akhirat yang dampaknya terasa di dunia.

Author Image

Author

Fuad Aziz

Seorang Blogger yang cinta keluarga, mulai ngeblog sejak tahun 2019.