Tanya Kiai/Nyai : Apa Hukum Menentukan Hari yang baik untuk Acara dalam islam?

Jagad.id – Tanya Kiai/Nyai : Apa Hukum Menentukan Hari yang baik untuk Acara dalam islam? – Jama’ah bertanya, Ulama menjawab. Bagaimana fenomena sebuah kebiasaan di masyarakat yang sudah ada sejak lama, yaitu menentukan hari baik atau memilih hari dalam suatu acara tertentu sampai ada yang meyakini atau mempercayainya.

Pertanyaan (Fulan, bukan nama sebenarnya):
Apa hukum dalam menentukan hari-hari tertentu untuk menjadi keberuntungan untuk acara-acara, seperti pernikahan dan menjadikannya kepercayaan? Apakah ini ada dalam Syariat Islam ?

Jawaban (Kiai/Nyai):
Dalam menetapkan hari penting, tentunya Shohibul Hajat (yang punya niat) berharap acara pada hari itu bisa berjalan lancar tanpa hambatan. Sebagai upaya, hari-hari tertentu sering dipilih agar harapan tersebut dapat terpenuhi. Asal usul hukumnya adalah bahwa sesuatu di luar ibadah diperbolehkan, sehingga memilih hari tertentu diperbolehkan.

Pembahasan

Pilihan hari biasanya ditentukan oleh berbagai pertimbangan, mulai dari pertimbangan cuaca dan aktivitas keluarga, hingga perhitungan hari lahir (weton), ramalan bintang atau rasi bintang (zodiak). Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan sendiri dapat mengubah undang-undang asli menjadi undang-undang baru, atau undang-undang yang sebelumnya diizinkan menjadi dilarang. Misalnya, ketika kami memilih hari tertentu, kami memilihnya karena masalah teknis atau sejenisnya, tidak ada kepercayaan, itu diperbolehkan secara hukum.

Perspektif secara Hukum Islam

Kemudian hukum kebolehan menjadi haram, jika kita memiliki niat dan keyakinan lain, seperti menganggap bahwa hari tertentu adalah hari yang baik karena dihitung dari tanggal lahir atau menghitung bintang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meneguhkan niat hati saat memilih dan mendefinisikannya.
Pada saat yang sama, tujuan pembuktian niat adalah untuk meyakinkan jiwa bahwa seluruh takdir, baik atau buruk, adalah kekuatan Tuhan semata, dan bukan karena hari tertentu sebagai hasil dari perhitungan atau ramalan. Dan Tuhanlah yang membuat baik dan buruknya nasib, bukan yang melihat, bahkan bukan yang mengetahui.

Baca Juga : Serba-serbi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia

Oleh karena itu, sebaiknya jangan disibukkan dengan memikirkan tanggal “hari baik” untuk akad nikah dan sebagainya, karena Islam sangat jelas melarang keyakinan akan hal ini. Keyakinan bahwa hanya hari-hari tertentu membawa keberuntungan mutlak atau kebaikan mutlak dilarang karena melanggar Syariah. Menurut Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyya, ramalan hari-hari bahagia, seperti perjalanan dan awal pembangunan, adalah bohong, dan dia sangat menentang hal ini.

Perspektif menurut Filsuf/Cendekiawan

Peneliti Utsmaniyah dan Cendekiawan Ottoman, Katip Celebi mengatakan bahwa meskipun apa yang diharapkan pada hari itu benar, bisa jadi karena pola kebiasaan saja. Beberapa peristiwa adalah penyebab dari peristiwa lain.

Tidak ada hubungan antara rasi bintang (sebagai prediksi) menjadi penyebab kebahagiaan atau kemalangan. Padahal dalam hukum Islam, mempercayai orang seperti itu adalah tercela dan terlarang. Rasulullah ﷺ dalam sabda beliau :

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa datang kepada seorang peramal atau seorang spiritualis (paranormal) kemudian membenarkan perkataannya, maka dia sebenarnya kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (HR. Ahmad No. 9171).

Baca Juga : Penjelasan Dalil Maulid Nabi Oleh Gus Baha

Adapun Imam Syafi’i, jika ahli nujum mengatakan dan melihat bahwa tidak ada yang mempengaruhinya selain Allah, maka Allah-lah yang mengatur urutan acara tersebut, dan berpengaruh padanya, maka tidak ada masalah. dengan itu. Terima itu. Pandangan ini disampaikan oleh Imam Taj al-Din al-Subki dalam bukunya Tabqat Assi al-Shafi’i al-Kubra.

Kesimpulan

Dengan demikian, Memilih hari tertentu untuk menjalankan suatu tujuan dengan harapan rencana akan berjalan dengan baik selama Anda tidak berpikir hari itu adalah yang benar-benar membawa keberuntungan. Sebagai umat Islam, kita harus ingat rukun iman di mana seseorang harus percaya pada takdir yang baik dan buruk, dan hanya mengandalkan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, penting untuk menentukan niat seseorang ketika menetapkan hari tertentu agar tidak terjerumus ke dalam keyakinan dan amalan yang salah, sehingga terjerumus ke dalam kemusyrikan bahkan kekafiran.
Sekian, Semoga bermanfaat. Terimakasih telah membaca.

error: This content is protected by DMCA