Salat Tarawih 8 atau 20 Rakaat? Berikut Dalilnya dan Penjelasan Lengkapnya

Gus Faisal

JAGAD.ID – Setiap Ramadan datang, suasana masjid langsung berubah. Setelah Isya, jamaah berdatangan. Saf kembali penuh. Anak-anak duduk rapi di samping orang tuanya.

Namun di tengah suasana itu, pertanyaan yang sama hampir selalu muncul: Salat tarawih, 8 atau 20 rakaat? berikut dalilnya bagaimana sebenarnya?

Sebagian masjid memilih 8 rakaat. Sementara itu, masjid lain melaksanakan 20 rakaat. Lalu, sebagian orang mulai membandingkan. Bahkan, tidak jarang muncul perdebatan kecil.

Padahal, jika kita melihat sejarah dan dalilnya secara utuh, perbedaan ini bukan masalah baru. Ulama sejak generasi awal sudah membahasnya. Bahkan, mereka menyikapinya dengan lapang dada.

Karena itu, artikel ini akan mengulas secara lengkap dan runtut. Kita akan membahas dalil 8 rakaat, dalil 20 rakaat, praktik sahabat, serta pandangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Dengan begitu, Anda bisa memahami persoalannya secara jernih, bukan sekadar ikut arus.

Mari kita mulai dari dasarnya.


Apa Itu Salat Tarawih?

Salat tarawih adalah salat sunnah malam yang khusus dikerjakan pada bulan Ramadan. Umat Islam menunaikannya setelah salat Isya dan sebelum witir.

Secara bahasa, kata “tarawih” berasal dari kata raaha yang berarti istirahat. Dahulu, para sahabat berhenti sejenak setiap selesai empat rakaat. Mereka melakukannya karena bacaan yang panjang membuat tubuh lelah.

Namun demikian, tarawih tetap termasuk bagian dari qiyamul lail atau salat malam. Perbedaannya terletak pada waktu pelaksanaannya. Tarawih hanya ada di bulan Ramadan.

Rasulullah ﷺ mendorong umatnya untuk menghidupkan malam Ramadan. Beliau bersabda:

“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan tarawih. Karena itu, umat Islam bersemangat mengerjakannya, baik di masjid maupun di rumah.


Mengapa Muncul Perbedaan Jumlah Rakaat?

Sekarang kita masuk ke inti pembahasan: Salat tarawih, 8 atau 20 rakaat? berikut dalilnya apa saja?

Perbedaan ini muncul karena adanya dua riwayat dan praktik yang berbeda dalam sejarah Islam.

Di satu sisi, ada hadis yang menunjukkan Nabi tidak menambah lebih dari 11 rakaat salat malam. Di sisi lain, ada praktik sahabat pada masa Khalifah Umar yang menetapkan 20 rakaat secara berjamaah.

Kedua dasar ini sama-sama kuat. Karena itu, para ulama kemudian berijtihad dan melahirkan perbedaan pendapat.

Mari kita bahas satu per satu.


Dalil Salat Tarawih 8 Rakaat

Pendapat 8 rakaat biasanya merujuk pada hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Beliau berkata:

“Rasulullah tidak pernah menambah (salat malam), baik di Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebelas rakaat yang dimaksud terdiri dari 8 rakaat salat malam dan 3 rakaat witir.

Karena itu, sebagian ulama memahami bahwa jumlah tarawih yang paling mendekati praktik Nabi adalah 8 rakaat.

Mengapa Hadis Ini Kuat?

Pertama, hadis ini diriwayatkan oleh Aisyah, istri Nabi yang sering menyaksikan langsung ibadah malam beliau.

Kedua, hadis ini tercatat dalam kitab sahih.

Ketiga, Nabi dikenal konsisten dalam jumlah rakaatnya, meskipun beliau memanjangkan bacaannya.

Namun demikian, kita perlu memahami konteksnya. Hadis tersebut berbicara tentang kebiasaan salat malam Nabi secara umum. Artinya, hadis itu tidak secara eksplisit menyebut angka maksimal untuk tarawih berjamaah.

Meskipun begitu, banyak ulama tetap menjadikannya sebagai rujukan utama.

Di Indonesia, praktik 8 rakaat sering kita jumpai di lingkungan Muhammadiyah. Organisasi ini menggunakan pendekatan tarjih berbasis hadis sahih dan berusaha mengikuti praktik Nabi secara tekstual.


Dalil Salat Tarawih 20 Rakaat

Selanjutnya, kita melihat pendapat yang menetapkan 20 rakaat.

Pendapat ini merujuk pada praktik di masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Apa yang Dilakukan Umar?

Pada masa Nabi, beliau pernah melaksanakan tarawih berjamaah beberapa malam. Namun setelah itu, beliau menghentikannya karena khawatir umat menganggapnya wajib.

Setelah Nabi wafat, kekhawatiran itu tidak lagi ada.

Karena itu, Umar mengumpulkan kaum Muslimin di masjid dan menunjuk satu imam untuk memimpin salat tarawih secara berjamaah dengan jumlah 20 rakaat.

Riwayat ini tercatat dalam Al-Muwaththa’ karya Imam Malik.

Yang menarik, para sahabat besar hadir pada masa itu. Mereka tidak menentang keputusan tersebut. Bahkan praktik itu terus berlangsung.

Karena itu, banyak ulama menilai bahwa 20 rakaat memiliki dasar kuat dari praktik sahabat.


Mengapa Mayoritas Mazhab Memilih 20 Rakaat?

Empat mazhab fikih besar dalam Islam — Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali (dalam riwayat masyhur) — menerima 20 rakaat sebagai jumlah yang umum.

Mereka beralasan:

  • Umar termasuk sahabat yang sangat berhati-hati dalam urusan agama.

  • Para sahabat lain menyetujui praktik tersebut.

  • Tarawih termasuk salat sunnah, sehingga jumlahnya fleksibel.

Di Indonesia, praktik 20 rakaat lazim kita temui di lingkungan Nahdlatul Ulama, yang mengikuti mazhab Syafi’i.


Apakah Kedua Pendapat Ini Bertentangan?

Sekilas, perbedaan ini tampak seperti dua kubu yang saling berlawanan. Namun jika kita telaah lebih dalam, para ulama tidak memahaminya secara ekstrem.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa hadis Aisyah menggambarkan kebiasaan pribadi Nabi dalam salat malam. Sementara itu, praktik Umar menunjukkan ijtihad dalam mengatur ibadah berjamaah.

Dengan kata lain, keduanya bisa berjalan berdampingan.

Ibnu Taimiyah bahkan menjelaskan bahwa jumlah rakaat tarawih tidak memiliki batas maksimal yang tegas. Seseorang bisa mengerjakan 8, 20, atau lebih, selama ia menjaga kekhusyukan.

Karena itu, para ulama memandang perbedaan ini sebagai perbedaan ijtihadi, bukan perbedaan prinsip akidah.


Mengapa Kita Tidak Perlu Memperdebatkannya?

Pertama, tarawih adalah salat sunnah.

Kedua, kedua pendapat memiliki dalil.

Ketiga, perbedaan ini sudah ada sejak generasi sahabat.

Selain itu, tujuan utama tarawih bukan pada angka rakaat, melainkan pada kualitas ibadah.

Jika seseorang melaksanakan 8 rakaat dengan penuh kekhusyukan, maka ia mendapatkan pahala besar. Sebaliknya, jika seseorang melaksanakan 20 rakaat dengan tuma’ninah dan konsisten, maka ia juga berada dalam kebaikan.

Karena itu, memperdebatkan jumlah rakaat secara keras justru mengaburkan esensi Ramadan.


Praktik Tarawih di Indonesia

Di Indonesia, perbedaan jumlah rakaat sering dikaitkan dengan dua organisasi Islam besar.

Nahdlatul Ulama

NU umumnya melaksanakan:

  • 20 rakaat tarawih

  • 3 rakaat witir

Mereka mengikuti mazhab Syafi’i yang menerima praktik 20 rakaat sejak masa sahabat.

Biasanya, imam membagi salat menjadi dua rakaat salam. Setelah empat rakaat, jamaah beristirahat sejenak.

Muhammadiyah

Muhammadiyah umumnya melaksanakan:

  • 8 rakaat tarawih

  • 3 rakaat witir

Mereka merujuk pada hadis Aisyah dan berusaha menyesuaikan dengan praktik Nabi.

Meskipun berbeda jumlah rakaat, keduanya tetap berlandaskan dalil.


Mana yang Sebaiknya Diikuti?

Jawabannya sederhana: ikuti imam di masjid tempat Anda salat.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa imam diangkat untuk diikuti. Karena itu, menjaga kebersamaan lebih utama daripada memperdebatkan perbedaan teknis.

Jika masjid Anda melaksanakan 20 rakaat, maka ikutlah sampai selesai. Sebaliknya, jika masjid Anda melaksanakan 8 rakaat, maka tunaikan dengan khusyuk.

Selain itu, Anda juga bisa menambah salat malam di rumah jika masih memiliki tenaga.


Apakah Boleh Lebih dari 20 Rakaat?

Boleh.

Salat malam pada dasarnya tidak memiliki batas maksimal yang tegas. Dalam sejarah, sebagian wilayah bahkan pernah melaksanakan lebih dari 20 rakaat.

Karena itu, kita tidak bisa membatasi secara mutlak.

Namun tentu saja, kualitas tetap lebih utama daripada sekadar memperbanyak jumlah.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Sayangnya, sebagian orang menyikapi perbedaan ini secara berlebihan.

Ada yang mudah menyebut praktik lain sebagai bid’ah. Ada pula yang merasa pendapatnya paling benar.

Padahal para ulama klasik berbeda pendapat tanpa saling menyalahkan. Mereka tetap menjaga adab dan persaudaraan.

Karena itu, kita pun seharusnya meneladani sikap tersebut.


Rangkuman: Salat Tarawih 8 atau 20 Rakaat?

Sekarang kita kembali pada pertanyaan awal: Salat tarawih, 8 atau 20 rakaat? berikut dalilnya apa saja?

Kesimpulannya:

  • Hadis Aisyah menjadi dasar pendapat 8 rakaat.

  • Praktik Umar dan para sahabat menjadi dasar pendapat 20 rakaat.

  • Mayoritas mazhab menerima 20 rakaat.

  • Ulama memandang perbedaan ini sebagai wilayah ijtihad.

  • Keduanya sah dan dapat diamalkan.

Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi momen memperbaiki kualitas ibadah, bukan ajang memperuncing perbedaan.

Pada akhirnya, yang Allah nilai bukan angka rakaatnya, melainkan keimanan, keikhlasan, dan ketakwaan kita.

Semoga Ramadan kali ini membuat kita lebih tenang dalam beribadah dan lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan.

Author Image

Author

Gus Faisal

Saya Faisal Ahmad Ferdian Syah, Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Program Studi Ahwal Syakhsiyah (Hukum Keluarga Islam) International Program Fakultas Ilmu Agama Islam. Lahir di Ponorogo, Jawa Timur. Selalu antusias terhadap hal baru, sangat tertarik terhadap Studi Islam dan Isu-isu Minoritas.