Pandangan Ulama tentang Muhkam dan Mutasyabih: Cara Para Ulama Memahami Ayat yang Jelas dan Samar dalam Al-Qur’an

 

 

Pandangan Ulama tentang Muhkam dan Mutasyabih

JAGAD.ID – Ketika membaca Al-Qur’an, sebagian ayat terasa begitu tegas dan mudah dipahami. Perintah salat, larangan zina, kewajiban puasa—semuanya jelas. Namun di bagian lain, kita menemukan ayat yang maknanya tidak sesederhana itu. Ada istilah, gambaran, atau redaksi yang memicu pertanyaan.

Di sinilah muncul pembahasan penting tentang pandangan ulama tentang muhkam dan mutasyabih. Topik ini bukan sekadar diskusi ilmiah di ruang kuliah. Ia menyentuh fondasi akidah, metode tafsir, dan cara umat Islam menjaga kemurnian pemahaman terhadap wahyu.

Banyak kesalahpahaman lahir karena ayat-ayat mutasyabih dipahami secara lepas dari bimbingan ilmu. Sebaliknya, banyak kebijaksanaan muncul ketika seseorang memahami bagaimana para ulama menyikapi perbedaan ini dengan hati-hati.

Artikel ini akan membahas secara utuh sudut pandang ulama hal muhkam dan mutasyabih, lengkap dengan konteks, contoh, dan relevansinya di era digital saat ini.


Apa Itu Muhkam dan Mutasyabih?

Pembahasan ini berangkat dari Surah Ali Imran ayat 7. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki ayat-ayat muhkam yang menjadi pokok kitab, dan ayat-ayat mutasyabih.

Secara sederhana:

  • Muhkam adalah ayat yang jelas maknanya.

  • Mutasyabih adalah ayat yang maknanya tidak langsung terang atau memiliki kemungkinan makna lain.

Namun, di balik definisi ringkas itu, terdapat pembahasan panjang dalam ilmu tafsir dan ushul fikih.

Pengertian Ayat Muhkam

Ayat muhkam adalah ayat yang:

  • Tegas maknanya

  • Tidak membuka banyak kemungkinan tafsir

  • Menjadi dasar hukum dan prinsip akidah

  • Mudah dipahami oleh mayoritas kaum Muslimin

Contohnya adalah perintah salat, kewajiban zakat, larangan riba, dan ketentuan warisan yang rinci.

Ayat-ayat ini menjadi pondasi. Tanpa pemahaman terhadap ayat muhkam, bangunan syariat akan goyah.

Pengertian Ayat Mutasyabih

Berbeda dengan muhkam, ayat mutasyabih memiliki karakteristik:

  • Maknanya tidak sepenuhnya jelas secara literal

  • Berkaitan dengan perkara gaib

  • Mengandung redaksi yang bisa disalahpahami

  • Membutuhkan pendekatan tafsir yang hati-hati

Contoh yang sering dibahas adalah ayat tentang “tangan Allah”, “wajah Allah”, atau “bersemayam di atas Arsy”.

Ayat-ayat seperti ini tidak boleh dipahami secara sembarangan.


Mengapa Allah Menurunkan Ayat Mutasyabih?

Pertanyaan ini sering muncul. Jika ayat muhkam sudah jelas dan menjadi fondasi, mengapa ada ayat yang tampak samar?

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah.

Pertama, sebagai ujian keimanan. Orang yang hatinya lurus akan mengembalikan ayat mutasyabih kepada ayat muhkam. Sebaliknya, orang yang condong pada penyimpangan akan mencari-cari celah.

Kedua, untuk menunjukkan keterbatasan akal manusia. Tidak semua perkara bisa dijangkau sepenuhnya oleh logika.

Ketiga, mendorong kajian ilmiah. Dari ayat-ayat inilah lahir tradisi tafsir yang kaya dan mendalam.

Jadi, keberadaan mutasyabih bukan kelemahan, melainkan bagian dari kesempurnaan Al-Qur’an.


Pandangan Ulama tentang Muhkam dan Mutasyabih

Jika berbicara tentang pandangan ulama tentang muhkam dan mutasyabih, kita akan menemukan dua pendekatan besar dalam sejarah Islam. Keduanya sama-sama berangkat dari keinginan menjaga tauhid dan kemurnian akidah.

Perbedaannya terletak pada metode.


Pendekatan Ulama Salaf: Iman Tanpa Menyerupakan

Generasi awal Islam—para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in—dikenal dengan pendekatan yang sangat hati-hati.

Mereka membaca ayat-ayat tentang sifat Allah tanpa membahas detail maknanya secara spekulatif.

Pendekatan ini dikenal dengan istilah tafwidh.

Apa Itu Tafwidh?

Tafwidh berarti:

  • Mengimani ayat sebagaimana adanya

  • Tidak menyerupakan Allah dengan makhluk

  • Tidak menanyakan “bagaimana”

  • Menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah

Misalnya, ketika membaca ayat tentang “tangan Allah”, mereka tidak membayangkan bentuk fisik. Mereka juga tidak menakwilkannya secara eksplisit menjadi “kekuasaan”.

Mereka berhenti pada batas yang aman: mengimani tanpa menyerupakan dan tanpa menolak.

Pendekatan ini menekankan adab terhadap wahyu.


Pendekatan Ulama Khalaf: Takwil untuk Menjaga Akidah

Seiring perkembangan zaman, muncul tantangan pemikiran baru—filsafat Yunani, debat teologis, dan berbagai aliran pemikiran.

Dalam konteks ini, sebagian ulama menggunakan metode takwil.

Apa Itu Takwil?

Takwil adalah mengalihkan makna lahiriah suatu lafaz kepada makna lain yang masih sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan prinsip syariat.

Contohnya:

  • “Tangan Allah” ditafsirkan sebagai kekuasaan

  • “Wajah Allah” dimaknai sebagai zat atau keberadaan-Nya

  • “Bersemayam di atas Arsy” ditakwil sebagai menguasai

Tujuannya bukan mengubah Al-Qur’an, melainkan menghindari kesan bahwa Allah menyerupai makhluk.

Dalam sudut pandang ulama hal muhkam dan mutasyabih, metode ini dianggap sebagai langkah defensif terhadap pemahaman literal yang bisa menyesatkan.


Apakah Perbedaan Ini Berarti Perpecahan?

Tidak.

Baik pendekatan tafwidh maupun takwil berada dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jamaah. Perbedaannya bersifat metodologis, bukan pertentangan prinsip tauhid.

Bahkan, banyak ulama besar menghormati kedua pendekatan tersebut selama tidak melampaui batas.

Yang berbahaya bukan perbedaan metode, tetapi sikap ekstrem—baik menyerupakan Allah dengan makhluk maupun menolak seluruh sifat-Nya.


Sudut Pandang Ulama Hal Muhkam dan Mutasyabih dalam Kitab Tafsir

Mari melihat bagaimana beberapa ulama besar membahasnya.

Imam At-Thabari

Beliau menekankan pentingnya mengembalikan ayat mutasyabih kepada ayat muhkam. Artinya, yang samar harus dipahami dalam cahaya yang jelas.

Metode ini menjaga konsistensi tafsir.

Imam Al-Qurthubi

Al-Qurthubi mengingatkan bahwa ayat mutasyabih bisa menjadi ujian. Orang yang memiliki niat buruk akan mencari-cari tafsir yang menyimpang.

Karena itu, ilmu dan kejujuran hati menjadi syarat utama.

Fakhruddin Ar-Razi

Ar-Razi dikenal lebih rasional dalam pendekatannya. Ia menggunakan argumen logis untuk menjelaskan ayat mutasyabih, terutama ketika berhadapan dengan pemikiran filsafat.

Ini menunjukkan bahwa konteks zaman memengaruhi metode, namun tujuannya tetap sama: menjaga tauhid.


Contoh Konkret Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Agar pembahasan tidak terasa abstrak, berikut contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ayat Muhkam

  • Perintah mendirikan salat

  • Kewajiban puasa Ramadan

  • Larangan membunuh tanpa hak

  • Ketentuan pembagian warisan

Maknanya jelas dan menjadi dasar hukum Islam.

Ayat Mutasyabih

  • Huruf muqatha’ah seperti Alif Lam Mim

  • Ayat tentang sifat Allah

  • Deskripsi detail tentang surga dan neraka yang bersifat simbolik

Ayat-ayat ini membuka ruang tafsir, tetapi tetap dalam batas yang ditentukan ilmu.


Kesalahan Umum dalam Memahami Ayat Mutasyabih

Di era media sosial, potongan ayat sering viral tanpa konteks. Inilah yang berbahaya.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  • Memahami ayat secara literal tanpa ilmu

  • Mengutip sebagian ayat tanpa melihat ayat lain

  • Mengabaikan tafsir ulama

  • Menggunakan ayat untuk kepentingan ideologi tertentu

Tanpa pemahaman tentang muhkam dan mutasyabih, seseorang mudah terseret pada kesimpulan yang keliru.


Mengapa Topik Ini Relevan di Era Digital?

Informasi hari ini bergerak cepat. Potongan ayat bisa tersebar dalam hitungan detik.

Tanpa literasi keislaman yang baik, masyarakat mudah terpengaruh narasi yang tampak meyakinkan, padahal tidak memiliki dasar ilmiah.

Memahami pandangan ulama tentang muhkam dan mutasyabih membantu kita:

  • Tidak mudah terprovokasi

  • Tidak gegabah menuduh sesat

  • Tidak terjebak tafsir ekstrem

  • Lebih bijak dalam berdiskusi

Ini bukan hanya soal teori tafsir, tetapi soal kedewasaan beragama.


Sikap Terbaik bagi Muslim Awam

Tidak semua orang harus menjadi ahli tafsir. Namun setiap Muslim perlu memiliki prinsip dasar.

Beberapa pedoman yang bisa dipegang:

  • Jadikan ayat muhkam sebagai pegangan utama

  • Jangan menafsirkan ayat mutasyabih tanpa rujukan

  • Belajar dari ulama yang kredibel

  • Hindari perdebatan yang tidak membawa manfaat

Rendah hati dalam ilmu jauh lebih aman daripada berani tanpa dasar.


Muhkam dan Mutasyabih dalam Perspektif Pendidikan Islam

Dalam dunia pendidikan, pembahasan ini penting untuk membangun fondasi berpikir yang seimbang.

Siswa perlu diajarkan bahwa:

  • Al-Qur’an memiliki struktur dan metode

  • Tidak semua ayat bisa dipahami secara tekstual

  • Ilmu tafsir berkembang dengan kaidah yang ketat

Pendekatan ini mencegah lahirnya generasi yang tekstualis tanpa konteks.


FAQ Seputar Muhkam dan Mutasyabih

Apa inti perbedaan muhkam dan mutasyabih?

Muhkam adalah ayat yang jelas dan menjadi dasar hukum. Mutasyabih adalah ayat yang maknanya tidak langsung terang atau memiliki kemungkinan tafsir lebih dari satu.

Mengapa ulama berbeda dalam menyikapi ayat mutasyabih?

Karena perbedaan metode—antara menyerahkan makna kepada Allah atau menakwil dengan kaidah bahasa.

Apakah ayat mutasyabih boleh dipelajari?

Boleh, tetapi harus dengan bimbingan ilmu dan merujuk pada tafsir yang otoritatif.

Apakah perbedaan ini memecah belah umat?

Tidak. Perbedaan ini sudah ada sejak lama dan tetap berada dalam koridor Ahlus Sunnah.

Bagaimana sikap paling aman?

Mengimani ayat, tidak menyerupakan Allah dengan makhluk, dan mengikuti penjelasan ulama terpercaya.


Kesimpulan: Ilmu yang Mengajarkan Kerendahan Hati

Pembahasan tentang muhkam dan mutasyabih bukan sekadar teori tafsir. Ia mengajarkan adab terhadap wahyu.

Ada ayat yang menjadi fondasi hukum dan tidak menimbulkan perdebatan. Ada pula ayat yang menguji kedalaman iman dan keluasan ilmu.

Dari sini kita belajar satu hal penting: semakin dalam seseorang mempelajari Al-Qur’an, semakin ia sadar bahwa tidak semua hal harus dipastikan dengan logika semata.

Pandangan ulama tentang muhkam dan mutasyabih menunjukkan bahwa perbedaan metode bisa berjalan berdampingan selama tujuannya menjaga tauhid dan menghormati wahyu.

Di tengah derasnya informasi dan perdebatan digital, pemahaman yang tenang, berilmu, dan rendah hati jauh lebih berharga daripada kemenangan argumen.

Karena pada akhirnya, Al-Qur’an bukan untuk dipertentangkan—melainkan untuk ditadabburi dan diamalkan.

Author Image

Author

Fuad Aziz

Seorang Blogger yang cinta keluarga, mulai ngeblog sejak tahun 2019.