JAGAD.iD – Pernah kepikiran mulai investasi, tapi ragu: “Ini halal nggak, ya?” atau “Takut salah pilih produk”? Tenang—investasi syariah untuk pemula itu justru dibuat supaya lebih jelas aturan mainnya: ada filter halal, ada pengawasan, dan ada prinsip menghindari riba, gharar (ketidakjelasan), serta maysir (spekulasi/judi).
Di artikel ini, kita bahas cara berinvestasi syariah untuk pemula dengan gaya yang ringan, tapi tetap rapi dan bisa langsung dipraktikkan. Cocok dibaca di HP, dan kamu bisa mulai dari nominal kecil.
Daftar Isi :
- Apa Itu Investasi Syariah?
- Kenapa Investasi Syariah Cocok untuk Pemula?
- Prinsip Dasar yang Wajib Dipahami Pemula
- Cara Berinvestasi Syariah untuk Pemula (Step-by-Step)
- Jenis-Jenis Investasi Syariah yang Cocok untuk Pemula
- 1) Reksa Dana Syariah
- 2) Saham Syariah
- 3) Sukuk Ritel / Sukuk Tabungan
- 4) Emas
- 5) Deposito Syariah
- Contoh Portofolio Investasi Syariah untuk Pemula
- Kesalahan Umum Pemula Saat Mulai Investasi Syariah
- Cara Mengecek “Syariah” atau Tidak: Praktik Sederhana
- Strategi Pemula Biar Konsisten
- Investasi Syariah vs Konvensional: Apa Bedanya?
- Kapan Waktu Terbaik Mulai Investasi Syariah?
- FAQ
- 1) Investasi syariah untuk pemula mulai dari berapa?
- 2) Apakah investasi syariah pasti halal?
- 3) Mana yang lebih cocok untuk pemula: reksa dana syariah atau saham syariah?
- 4) Apakah ada risiko rugi di investasi syariah?
- 5) Bagaimana cara berinvestasi syariah untuk pemula yang gajinya pas-pasan?
- 6) Apakah emas syariah cocok untuk jangka pendek?
- 7) Apa langkah pertama paling aman untuk pemula?
- Penutup: Rangkuman Praktis untuk Mulai
Apa Itu Investasi Syariah?
Investasi syariah adalah aktivitas menempatkan dana pada instrumen yang mengikuti prinsip Islam. Fokusnya bukan cuma “cuan”, tapi juga cara mendapatkan cuan yang sesuai syariah.
Ciri umumnya:
-
Ada penyaringan (screening) emiten/produk agar sesuai syariah.
-
Menghindari riba, gharar, dan maysir.
-
Ada akad/mekanisme transaksi yang jelas.
-
Umumnya diawasi/dirujuk pada fatwa dan regulasi terkait.
Buat pemula, ini kabar baik: kamu punya “pagar” tambahan supaya pilihan investasi lebih terarah.
Kenapa Investasi Syariah Cocok untuk Pemula?
Bukan berarti investasi syariah selalu tanpa risiko ya—tetap ada naik turun. Tapi untuk pemula, investasi syariah punya beberapa nilai plus:
1) Lebih “tenang” secara prinsip
Buat banyak orang, kepastian halal itu bikin konsisten. Investasi jadi kebiasaan jangka panjang, bukan sekadar ikut tren.
2) Screening membantu mengurangi pilihan yang “nggak jelas”
Pemula sering bingung: terlalu banyak produk. Di syariah, ada daftar/filter yang membantu menyaring.
3) Banyak produk yang modal awalnya kecil
Sekarang mulai dari puluhan ribu pun bisa, terutama reksa dana syariah dan emas.
Prinsip Dasar yang Wajib Dipahami Pemula
Sebelum pilih produk, pahami dulu “kompas”-nya.
Hindari 3 hal ini
-
Riba: keuntungan yang bersifat bunga/imbalan yang ditetapkan tanpa risiko usaha.
-
Gharar: ketidakjelasan yang berlebihan (informasi, objek, akad, risiko yang disembunyikan).
-
Maysir: spekulasi/judi—mengandalkan untung-untungan tanpa dasar nilai/analisis.
Keuntungan dalam syariah biasanya terkait:
-
Bagi hasil (misal: sukuk tertentu, pembiayaan syariah).
-
Kenaikan nilai aset (misal: saham syariah, emas).
-
Imbal hasil yang berasal dari aktivitas usaha halal.
Cara Berinvestasi Syariah untuk Pemula (Step-by-Step)
Di bagian ini kita masuk ke inti: cara berinvestasi syariah untuk pemula yang praktis.
1) Tentukan tujuan: mau untuk apa?
Tujuan menentukan produk. Contoh:
-
Dana darurat (lebih aman & likuid)
-
Tabungan menikah/DP rumah (menengah)
-
Pensiun (jangka panjang)
Tips cepat:
-
< 1 tahun: pilih yang stabil & mudah dicairkan.
-
1–3 tahun: boleh campur stabil + sedikit bertumbuh.
-
> 3–5 tahun: bisa fokus ke instrumen bertumbuh (tetap sesuai profil risiko).
2) Cek kondisi finansial: dana darurat dulu
Ini sering dilewatkan. Padahal penting.
Patokan dana darurat:
-
Lajang: 3–6 bulan pengeluaran
-
Menikah: 6–9 bulan
-
Menikah + anak: 9–12 bulan
Kalau dana darurat belum aman, investasi agresif bikin stres saat ada kebutuhan mendadak.
3) Kenali profil risiko kamu
Tanya diri sendiri: kalau nilai investasi turun 10–20%, kamu panik atau tetap tenang?
-
Konservatif: prioritas aman, naik pelan nggak masalah
-
Moderat: siap fluktuasi sedang
-
Agresif: siap naik-turun, fokus jangka panjang
Profil risiko bukan soal berani doang, tapi soal kecocokan dengan tujuan dan kondisi hidup.
4) Pilih instrumen syariah yang paling “ramah pemula”
Pemula tidak perlu langsung “kompleks”. Mulai dari yang paling mudah dipahami.
Di bawah ini pilihan populer.
5) Buka akun di platform legal dan diawasi
Pilih yang terdaftar/berizin sesuai kategori produknya (misal: sekuritas untuk saham, manajer investasi/agen untuk reksa dana, pegadaian/marketplace emas yang resmi, dan seterusnya).
Checklist cepat:
-
Aplikasi jelas perusahaannya
-
Ada info produk transparan
-
Biaya tertulis
-
Layanan CS jelas
-
Edukasi & prospektus/penjelasan lengkap
6) Mulai kecil, rutin, dan disiplin
Investasi itu maraton.
Strategi yang ramah pemula:
-
Auto-debit tiap tanggal gajian
-
Nominal kecil tapi konsisten
-
Naikkan nominal saat income naik
7) Evaluasi berkala, jangan tiap hari
Cek terlalu sering bikin emosi naik turun.
Saran:
-
Reksa dana/emas: evaluasi bulanan
-
Saham syariah: evaluasi triwulan (kecuali kamu trader aktif)
Jenis-Jenis Investasi Syariah yang Cocok untuk Pemula
Mari kita bahas satu per satu, dengan bahasa yang sederhana.
1) Reksa Dana Syariah
Reksa dana syariah itu “patungan” dana investor, dikelola manajer investasi, lalu ditempatkan ke aset syariah (sukuk, saham syariah, pasar uang syariah).
Kelebihan
-
Bisa mulai dari nominal kecil
-
Dikelola profesional
-
Diversifikasi otomatis
-
Cocok buat yang belum paham analisis
Kekurangan
-
Tetap ada risiko naik turun
-
Ada biaya (tergantung produk/platform)
Jenis reksa dana syariah untuk pemula
-
Pasar Uang Syariah: paling stabil, cocok untuk dana 3–12 bulan
-
Pendapatan Tetap Syariah: cenderung lebih stabil dari saham
-
Campuran Syariah: gabungan, fluktuasi menengah
-
Saham Syariah: fluktuasi tinggi, cocok jangka panjang
Rekomendasi pemula:
Mulai dari pasar uang syariah, lalu naik bertahap ke pendapatan tetap/campuran sesuai tujuan.
2) Saham Syariah
Saham syariah adalah saham perusahaan yang memenuhi kriteria syariah (bisnis halal dan rasio tertentu yang disyaratkan).
Kelebihan
-
Potensi hasil jangka panjang lebih tinggi
-
Transparansi kinerja perusahaan (laporan keuangan, aksi korporasi)
-
Banyak pilihan sektor halal
Kekurangan
-
Naik turunnya bisa tajam
-
Butuh belajar dasar analisis & manajemen emosi
Cara mulai saham syariah untuk pemula
-
Buka akun sekuritas yang menyediakan fitur syariah
-
Pilih saham yang likuid dan fundamentalnya jelas
-
Hindari “gorengan”
-
Gunakan strategi bertahap (misal: nabung saham bulanan)
Catatan penting:
Untuk pemula, saham syariah paling aman kalau tujuannya > 5 tahun.
3) Sukuk Ritel / Sukuk Tabungan
Sukuk sering disebut “obligasi syariah”—tapi mekanismenya menggunakan prinsip syariah. Untuk pemula, ini menarik karena cenderung lebih stabil dibanding saham.
Kelebihan
-
Umumnya risiko lebih rendah dibanding saham
-
Imbal hasil relatif terukur
-
Cocok untuk tujuan menengah
Kekurangan
-
Ada periode penahanan (tergantung jenis)
-
Likuiditas bisa berbeda per produk
Kalau kamu tipe konservatif–moderat, sukuk bisa jadi “tulang punggung” portofolio.
4) Emas
Emas sering jadi pilihan pemula karena mudah dipahami.
Kelebihan
-
Cocok untuk proteksi nilai (terutama jangka menengah-panjang)
-
Bisa dicicil/nabung kecil
-
Relatif stabil dibanding saham
Kekurangan
-
Jangka pendek bisa stagnan
-
Spread beli-jual perlu diperhatikan
Tips pemula:
Fokus ke emas untuk target > 2–3 tahun dan pilih tempat yang jelas legalitas serta transparansi harga.
5) Deposito Syariah
Deposito syariah menggunakan akad syariah (bukan bunga). Cocok buat yang sangat konservatif.
Kelebihan
-
Stabil
-
Tenang untuk pemula yang belum siap fluktuasi
Kekurangan
-
Potensi hasil biasanya lebih rendah dibanding saham
-
Dana “terkunci” sampai jatuh tempo
Contoh Portofolio Investasi Syariah untuk Pemula
Ini contoh sederhana, bukan patokan mutlak. Sesuaikan tujuan & profil risiko.
A) Konservatif (target 6–18 bulan)
-
60% Reksa Dana Pasar Uang Syariah
-
30% Sukuk / Pendapatan Tetap Syariah
-
10% Emas
B) Moderat (target 2–5 tahun)
-
40% Pendapatan Tetap Syariah / Sukuk
-
30% Campuran Syariah
-
20% Pasar Uang Syariah
-
10% Emas
C) Agresif (target > 5 tahun)
-
60% Reksa Dana Saham Syariah / Saham Syariah
-
20% Campuran Syariah
-
10% Sukuk/Pendapatan Tetap Syariah
-
10% Emas
Kesalahan Umum Pemula Saat Mulai Investasi Syariah
Biar kamu nggak jatuh di lubang yang sama, ini kesalahan yang sering kejadian:
-
Mulai karena FOMO
Teman cuan, kamu ikut. Padahal tujuan dan profil risiko beda. -
Nggak punya dana darurat
Akhirnya investasi dicairin di waktu yang salah. -
Menganggap syariah pasti “aman tanpa risiko”
Syariah itu soal prinsip dan mekanisme. Risiko pasar tetap ada. -
Terlalu sering cek portofolio
Emosi naik turun, lalu buy high sell low. -
Tidak membaca ringkasan produk
Minimal pahami: tujuan, aset dasar, biaya, risiko, cara cair.
Cara Mengecek “Syariah” atau Tidak: Praktik Sederhana
Kalau kamu pemula, gunakan 3 langkah ini:
1) Cek apakah produknya berlabel syariah
Di aplikasi/platform biasanya ada kategori “Syariah”.
2) Cek transparansi akad/mekanisme
Produk yang baik menjelaskan akad, cara kerja, risiko, dan biaya.
3) Hindari produk yang menjanjikan “pasti untung”
Investasi yang sehat tidak menjamin cuan tetap. Yang ada adalah potensi dan risiko.
Strategi Pemula Biar Konsisten
Gunakan metode “3 rekening”
-
Rekening kebutuhan bulanan
-
Rekening dana darurat
-
Rekening investasi syariah
Terapkan aturan simpel 50/30/20
-
50% kebutuhan
-
30% gaya hidup
-
20% tabungan + investasi
Kalau berat, mulai dari 5–10% dulu. Yang penting jalan.
Auto-invest
Kalau bisa otomatis, kamu tidak perlu “melawan diri sendiri” tiap bulan.
Investasi Syariah vs Konvensional: Apa Bedanya?
Secara tujuan finansial, keduanya sama-sama ingin mengembangkan dana. Bedanya ada pada filter dan prinsip.
-
Syariah: ada penyaringan bisnis halal, menghindari riba/gharar/maysir, akad lebih ditekankan.
-
Konvensional: tidak memakai penyaringan syariah, instrumen tertentu bisa berbasis bunga.
Buat pemula muslim yang ingin tenang dan jelas, investasi syariah jadi pilihan yang logis.
Kapan Waktu Terbaik Mulai Investasi Syariah?
Jawaban yang paling berguna: sekarang, setelah kamu siap secara dasar.
Siap itu artinya:
-
Punya dana darurat (atau sedang dibangun)
-
Tidak punya utang konsumtif yang menekan
-
Sudah tentukan tujuan & horizon waktu
-
Siap rutin, bukan sekali setor lalu berharap kaya
Kalau kamu menunggu “momen terbaik”, seringnya tidak mulai-mulai.
FAQ
1) Investasi syariah untuk pemula mulai dari berapa?
Banyak produk bisa mulai dari puluhan ribu. Yang penting bukan nominal awalnya, tapi konsistensi dan pilihan produk sesuai tujuan.
2) Apakah investasi syariah pasti halal?
Investasi syariah dirancang mengikuti prinsip syariah, namun tetap penting memilih platform dan produk yang jelas, transparan, dan resmi agar mekanismenya benar.
3) Mana yang lebih cocok untuk pemula: reksa dana syariah atau saham syariah?
Kalau baru mulai, reksa dana syariah biasanya lebih ramah karena dikelola profesional dan sudah diversifikasi. Saham syariah cocok jika kamu siap belajar dan fokus jangka panjang.
4) Apakah ada risiko rugi di investasi syariah?
Ada. Syariah tidak menghapus risiko pasar. Yang dibedakan adalah cara, akad, dan batasan aktivitas yang boleh dilakukan.
5) Bagaimana cara berinvestasi syariah untuk pemula yang gajinya pas-pasan?
Mulai dari kecil dan rutin. Pilih instrumen yang stabil dulu (pasar uang syariah/emas), pakai auto-debit, dan naikkan nominal saat kondisi membaik.
6) Apakah emas syariah cocok untuk jangka pendek?
Emas biasanya lebih cocok untuk menengah–panjang. Untuk jangka pendek, perhatikan spread dan potensi stagnan.
7) Apa langkah pertama paling aman untuk pemula?
Bangun dana darurat, lalu mulai reksa dana pasar uang syariah atau deposito syariah, sambil belajar bertahap.
Penutup: Rangkuman Praktis untuk Mulai
Kalau kamu ingin mulai investasi syariah untuk pemula, jangan pusing dulu dengan banyak teori. Pegang rumus ini:
-
Amankan dana darurat
-
Tentukan tujuan & jangka waktu
-
Kenali profil risiko
-
Mulai dari instrumen ramah pemula (reksa dana syariah/emas/sukuk)
-
Rutin, kecil dulu, lalu bertahap
-
Evaluasi berkala, jangan tiap hari
Dengan langkah yang rapi, kamu bisa punya portofolio yang tumbuh—dan tetap tenang karena sesuai prinsip.

