JAGAD.ID – Pernah merasa hidup orang lain terlihat lebih seru, lebih sukses, atau lebih “jadi”?
Scroll sedikit di media sosial, lalu tiba-tiba muncul rasa: “Kok hidup gue gini-gini aja ya?”
Itulah yang disebut FOMO — Fear of Missing Out.
Fenomena ini makin terasa di era digital. Semua orang terlihat “berhasil”, “bahagia”, dan “punya segalanya”. Padahal, kita hanya melihat potongan terbaik dari hidup mereka.
Lalu muncul pertanyaan penting:
Bagaimana Islam memandang FOMO? Apa kata Al-Qur’an tentang rasa takut tertinggal ini?
Artikel ini akan mengupas FOMO dalam Islam menurut Al-Qur’an, lengkap dengan penjelasan yang relevan dengan kehidupan modern — bukan teori kaku, tapi sesuatu yang bisa kamu rasakan dan praktikkan.
Daftar Isi :
- Apa Itu FOMO? Lebih dari Sekadar Ikut-ikutan
- FOMO dalam Islam: Penyakit Lama dengan Nama Baru
- Menurut Al-Qur’an: Jangan Sibuk Melihat Milik Orang Lain
- Dunia Itu Sementara — Tapi Kita Memperlakukannya Seperti Segalanya
- Kenapa FOMO Terasa Berat? Ini yang Sering Tidak Disadari
- Qana’ah: Kunci yang Sering Dilupakan
- Media Sosial: Mesin Penghasil FOMO
- Tanda-Tanda Kamu Terjebak FOMO
- Cara Mengatasi FOMO dalam Islam (Yang Realistis, Bukan Teori)
- Dari FOMO ke JOMO: Belajar Menikmati Hidup Sendiri
- Contoh Nyata: FOMO yang Sering Terjadi
- Pesan Ulama yang Relevan Sampai Sekarang
- FAQ: Pertanyaan Seputar FOMO dalam Islam
Apa Itu FOMO? Lebih dari Sekadar Ikut-ikutan
FOMO bukan cuma soal ikut tren. Ini soal perasaan.
Perasaan tertinggal.
Perasaan kurang.
Perasaan bahwa hidup orang lain lebih baik.
Biasanya muncul saat:
- Melihat teman liburan terus
- Lihat orang lain sukses lebih cepat
- Melihat postingan “hidup ideal” di Instagram
- Atau sekadar merasa kita “ketinggalan zaman”
Yang sering tidak disadari, FOMO itu bukan masalah luar.
Masalahnya ada di dalam hati.
FOMO dalam Islam: Penyakit Lama dengan Nama Baru
Dalam Islam, istilah FOMO memang tidak disebut secara langsung. Tapi esensinya sudah lama dibahas.
FOMO sebenarnya gabungan dari beberapa penyakit hati:
1. Hasad (Iri Hati)
Tidak nyaman melihat orang lain lebih.
2. Tamak
Selalu ingin lebih, tanpa batas.
3. Tidak Qana’ah
Sulit merasa cukup.
Ketiganya sangat dekat dengan kehidupan modern saat ini.
Bedanya, dulu kita membandingkan diri dengan tetangga.
Sekarang? Kita membandingkan diri dengan seluruh dunia.
Menurut Al-Qur’an: Jangan Sibuk Melihat Milik Orang Lain
Islam sudah memberi “rem” untuk FOMO sejak lama.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini sederhana, tapi dalam maknanya.
Kita sering lupa bahwa:
- Setiap orang punya ujian berbeda
- Rezeki tiap orang sudah diatur
- Apa yang terlihat indah belum tentu baik
FOMO muncul karena kita melihat hasil, bukan proses.
Melihat pencapaian, tanpa tahu perjuangan di baliknya.
Dunia Itu Sementara — Tapi Kita Memperlakukannya Seperti Segalanya
Salah satu akar FOMO adalah kita terlalu serius dengan dunia.
Padahal Al-Qur’an sudah mengingatkan:
“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Coba jujur.
Berapa banyak keputusan kita yang didorong oleh:
- Ingin terlihat keren
- Takut dianggap tertinggal
- Ingin diakui orang lain
Bukan karena kebutuhan.
Bukan karena nilai.
Tapi karena tekanan sosial.
Di sinilah FOMO diam-diam menggerogoti hati.
Kenapa FOMO Terasa Berat? Ini yang Sering Tidak Disadari
FOMO bukan cuma soal iri.
Ada lapisan yang lebih dalam.
Kita Terjebak Ilusi
Media sosial menampilkan versi terbaik, bukan kenyataan.
Kita Lupa Bersyukur
Fokus pada yang tidak dimiliki, bukan yang sudah ada.
Kita Kehilangan Arah
Mengikuti hidup orang lain, bukan tujuan sendiri.
Kita Terlalu Ingin Diakui
Padahal dalam Islam, yang penting adalah ridha Allah, bukan validasi manusia.
Qana’ah: Kunci yang Sering Dilupakan
Kalau FOMO adalah penyakit, maka qana’ah adalah obatnya.
Qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Bukan juga berarti tidak boleh punya keinginan.
Qana’ah itu:
- Berusaha maksimal
- Tapi hati tetap tenang dengan hasilnya
Al-Qur’an mengingatkan:
“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia…”
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Artinya?
Tidak semua harus kita miliki.
Dan itu bukan masalah.
Media Sosial: Mesin Penghasil FOMO
Tidak bisa dipungkiri, media sosial adalah pemicu terbesar FOMO saat ini.
Setiap hari kita melihat:
- Orang traveling
- Orang menikah
- Orang sukses
- Orang “bahagia”
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan.
Padahal:
- Tidak semua yang diposting itu nyata
- Tidak semua kebahagiaan terlihat di kamera
- Tidak semua kesuksesan itu utuh
Dalam Islam, menjaga pandangan bukan cuma soal fisik.
Tapi juga apa yang kita konsumsi secara mental.
Tanda-Tanda Kamu Terjebak FOMO
Kadang kita tidak sadar sudah terjebak.
Coba cek diri sendiri:
- Sering merasa hidup kurang
- Sulit menikmati apa yang ada
- Terus membandingkan diri
- Merasa tertinggal dari teman
- Ingin ikut tren meski tidak perlu
Kalau beberapa terasa “kena”, mungkin ini saatnya berhenti sejenak.
Cara Mengatasi FOMO dalam Islam (Yang Realistis, Bukan Teori)
Tidak perlu langsung berubah drastis.
Mulai dari hal kecil.
1. Sadari: Tidak Semua Hal Harus Kamu Ikuti
Tidak semua tren penting.
Tidak semua kesempatan harus diambil.
Tanya ke diri sendiri:
- Ini penting atau cuma ikut-ikutan?
- Ini bermanfaat atau hanya ingin terlihat?
2. Kurangi Paparan yang Memicu
Bukan berarti harus hapus media sosial.
Tapi bisa:
- Unfollow akun yang bikin kamu insecure
- Kurangi waktu scrolling
- Pilih konten yang menenangkan
3. Latih Syukur Secara Nyata
Bukan sekadar ucapan.
Coba:
- Tulis 3 hal yang kamu syukuri setiap hari
- Sadari hal kecil: kesehatan, keluarga, waktu
Syukur itu sederhana, tapi dampaknya besar.
4. Kembali ke Tujuan Hidup
Dalam Islam, tujuan hidup itu jelas:
Bukan untuk terlihat sukses.
Tapi untuk menjadi hamba yang baik.
Kalau ini sudah jelas, FOMO akan perlahan melemah.
5. Dekatkan Diri ke Allah
Saat hati dekat dengan Allah, kebutuhan akan validasi manusia berkurang.
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Tenang itu bukan dari luar.
Tapi dari dalam.
Dari FOMO ke JOMO: Belajar Menikmati Hidup Sendiri
Ada istilah baru: JOMO — Joy of Missing Out.
Dalam Islam, ini sebenarnya bukan hal baru.
Ini sejalan dengan:
- Zuhud
- Qana’ah
- Tawakal
JOMO itu saat kamu:
- Tidak merasa harus ikut semua
- Tidak terganggu dengan hidup orang lain
- Nyaman dengan jalan hidup sendiri
Dan jujur saja… ini jauh lebih damai.
Contoh Nyata: FOMO yang Sering Terjadi
Supaya lebih relate, ini beberapa contoh sehari-hari.
1. “Semua orang liburan, gue juga harus”
Padahal kondisi keuangan tidak memungkinkan.
➡ Dalam Islam: ini bisa jatuh ke pemborosan.
2. “Teman sudah sukses, gue ketinggalan”
Padahal setiap orang punya timeline berbeda.
➡ Ini bentuk membandingkan tak sehat.
3. “Harus upgrade biar tidak malu”
Padahal yang lama masih layak.
➡ Ini bukan kebutuhan, tapi tekanan sosial.
Pesan Ulama yang Relevan Sampai Sekarang
Imam Al-Ghazali pernah menekankan pentingnya menjaga hati dari:
- Iri
- Cinta dunia berlebihan
- Ambisi yang tidak terkendali
Ibnu Qayyim juga mengatakan bahwa kebahagiaan sejati bukan dari dunia, tapi dari kedekatan dengan Allah.
Kalimat ini terasa sangat relevan hari ini.
FAQ: Pertanyaan Seputar FOMO dalam Islam
1. Apakah FOMO itu dosa?
Tidak langsung dosa. Tapi bisa menjadi dosa jika memicu iri, riya, atau pemborosan.
2. Apakah wajar merasa FOMO?
Wajar sebagai manusia. Tapi tidak boleh dibiarkan terus.
3. Bagaimana cara mengurangi FOMO dengan cepat?
Mulai dari:
- Kurangi media sosial
- Perbanyak syukur
- Fokus ke diri sendiri
4. Apakah Islam melarang mengikuti tren?
Tidak, selama tidak berlebihan dan tidak melanggar syariat.
5. Apa lawan FOMO dalam Islam?
Qana’ah, tawakal, dan rasa cukup.
