Pattimura
Lukisan Pattimura

Patimura yang lebih tepatnya ditulis Pattimura. Sering dikenal dengan Kapitan Pattimura ialah salah satu pahlawan yang ikut bagian memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dimasa penjajahan. Bahkan untuk mengenang dan menghargai dari perjuangan yang telah dilakukan Pattimura, maka sempat diabadikan pada salah satu lembar mata uang resmi Indonesia yakni di mata uang seribu rupiah.

Pattimura atau lengkapnya Thomas Matulessy Pattimura dengan biografi berikut ini :

1. Kelahiran Pattimura

Pattimura lahir di Haria, yakni pulau Saparua, Maluku tanggal 8 juni 1783. Wafat di kota Ambon, Maluku tepat pada tanggal 16 Desember 1817 yang mana genap berusia 24 tahun. Menurut catatan buku biografi yang dengan versi pemerintahan pertama yakni M Sapija mengatakan atau menuliskan bahwa pahlawan Pattimura menrupakan seorang keturunan bangsawan serta berasal dari daerah Nusa Ina. Ayah dari Kapitan Pattimura yakni Antoni Matulessy. Serta dijelaskan juga jika Pattimura adalah keturunan terakhir dari raja Sahulau yang berada di teluk Seram.

2. Penyebab Perang Kapitan Pattimura Atau Perang Maluku

Sebelum memulai sebagai seorang pejuang yang membantu Indonesia untuk merdeka, Pattimura memiliki latar belakang atau berkarir dalam militer yang mana dahulunya dikenal sebagai sersan militer yang ada di Inggris. Tepat pada tahun 1816 negara Inggris secara sah menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda, yang mana pada saat bersamaan negara Belanda membuat kebijakan yang berkaitan dengan monopoli politik. Monopoli politik tersebut berkaitan dengan pajak tanah, pajak pemindahan sebuah penduduk dan pelayaran Hongi.

Pada saat itu juga Belanda telah melanggar dari aturan Traktat London 1 yang mana termasuk dalam pasal 11 yang membuat atau tertulis dengan ketentuan bahwa sebuah residen Inggris yang ada di Ambon harus melalui proses perundingan terlebih dahulu yakni koprs Ambon dengan ketua Gubernur. Namun dalam perjanjian tersebut juga sudah dijelaskan jika pemerintahan Inggris sudah berakhir di kota Maluku. Tepat pada waktu itu juga semua serdadu-serdadu yang ada di Ambon harus bebas, yang mana diartikan untuk memilih memasuki dinas militer dalam pemerintahan yang baru dan keluar dari dinas militer.

Tetapi apa yang sudah menjadi rencana awal harus berubah dikarenakan dalam praktiknya harus terhambat karena datangnya pemerintahan colonial Belanda pada tahun 1817 dan menentang semua aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Adanya pertentangan yang dilakukan beberapa peduduk atau rakyat didasari atas buruknya beberapa hal diantaranya kondisi politik, ekonomi serta hubungan seluruh masyarakat menjadi tidak jelas selama dua abad lamanya.

3. Pecahnya Perang Kapitan Pattimura Atau Perang Maluku

Biografi yang dimiliki kapitan Pattimura sebenarnya sudah diketahui oleh seluruh rakyat Maluku. Serta dengan biografi dan latar belakang yang dimilikinya maka seluruh rakyat Maluku bersemangat dan kembali mengangkat senjata untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah pada waktu itu. Tepat pada tahun 1817 terjadilah perlawanan terhadap pasukan Belanda yang dipimpin oleh Pattimura.

Monumen Patung Pahlawan Patimura

Tepat pada kebangkitan tersebut juga beberapa raja-raja, seluruh kapitan, penertua termasuk tua-tua adat yang ada di Maluku mengangkat Kapitan Pattimura sebagai panglima perang. Kemudian setelah diangkat sebagai panglima perang, pada saat itu juga Pattimura membentuk sebuah pasukan dan mengatur strategi untuk melawan pasukan penjajah yakni Belanda yang dibantu dengan koleganya.

Memiliki jiwa kesatria dan jiwa kepemimpinan, jelas sekali tindakan Pattimura sebelumnya mendapatkan hasil yakni berhasil mengkoordinir semua raja-raja Patih untuk melaksanakan seluruh kegiatan pemerintahan pada waktu itu. Diantaranya berhasil memimpin rakyat, mengatur semua pendidikan, serta menyediakan pangan dan mampu membangun semua benteng pertahanan untuk menangkal semua serangan Belanda pada saat penjajahan. Dibawah kepemimpinannya Pattimura juga berhasil membuat atau menggalang sebuah persatuan dengan beberapa kerajaan diantaranya Ternate serta Tidore, raja-raja yang ada di Bali, termasuk juga Sulawesi dan Pulau Jawa.

Pada saat melakukan perlawanan atas Belanda, pasukan Pattimura yang sudah dibentuk sebelumnya memang dikenal memiliki kekuatan militer yang sangat besar serta kuat. Serta mengirimkan juga secara pribadi seorang Laksamana Buykes yang mana dikenal sebagai seorang Komisaris Jenderal.

Perlawanan perang yang terjadi bukan hanya dari satu sisi saja melainkan juga melawan pasukan Belanda dari semua sisi. Diantaranya melakukan perlawanan angkatan darat Belanda serta dilakukan juga perlawanan yang di lautan, yang mana langsung dikoordinir langsung oleh Kapitan Pattimura. Namun perlawanan tersebut juga dibantu oleh beberapa panglima lainnya yakni Melchior Kesaulya, panglima Anthoni Rebhok, Panglima Philip Latumahina serta Panglima Ulupaha.

Tercatat dari pertempuran tersebut sebenarnya untuk menghancurkan seluruh pasukan Belanda serta untuk merebut benteng yang dimiliki Belanda Duurstede, yakni pertempuran ini berlangsung di pantai Waisisil dan Jasirah Hatawano, dan Oue Ullath, termasuk juga Jasirah Hitu yang ada di pulau Ambon kemudian di Seram Selatan.

4. Tertangkapnya Kapitan Pattimura

Awal mula tertangkapnya Kapitan Pattimura sebenarnya disebabkan oleh sebuah politik adu domba yang ada pada saat itu. Dengan adanya kedua hal tersebut, Pattimura dan beberapa pejuang lainnya ikut tertangkap oleh pasukan Belanda. Dalam sejarah juga dicatatkan jika Pattimura benar adanya ditangkap oleh Kolonial Belanda yang mana pada saat itu berada di rumah yang terletak di wilayah Siri Sori. Kemudian Pattimura dibawa ke sebuah pengadilan Belanda dengan tuduhan jika sudah melawan pemerintahan kolonial Belanda. Atas pengadilan yang dijalani Pattimura akhirnya diberikan sebuah hukuman pada dirinya.

5. Hukum Gantung Kapitan Pattimura

Setelah menjalani proses pengadilan yang panjang dan diberikan beberapa pasal pelanggaran oleh Belanda, akhirnya Kapitan Pattimura diberikan hukuman gantung. Tepat sebelum dilaksanakannnya hukuman gantung tersebut, ternyata Belanda sebelumnya sudah membujuk Pattimura untuk melakukan kerjasama dengan negara mereka yakni mengikuti semua aturan kolonial Belanda demi menjajah Indonesia juga. Tetapi semua usaha yang dilakukan kolonial Belanda mendapatkan penolakan dari Pattimura.

Setelah gagal menyakinkan Kapitan Pattimura untuk bergabung dengan kolonial Belanda, dari situlah dimulainya proses eksekusi hukuman yang sudah dijatuhkan sebelumnya yakni hukuman gantung. Tepat pada tanggal 16 desember 1817 Pattimura mengakhiri seluruh perjuangan dan pengabdiannya kepada bangsa Indonesia. Pada saat itu juga Kapitan Pattimura di gantung tepat di depan Benteng Victoria yang ada di kota Ambon.

Gambar Patimura - Uang Rp 1000 (Seribu Rupiah)

Salah satu hal yang pernah dikatakan oleh Kapitan Pattimura disaat masa kepemimpinanya yakni demikian:

Saya katakana kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakana kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lainnya akan menggantinya.”

Dari kata-kata tersebut sebenarnya bisa dimaknai jika perjuangan seorang pejuang tidak akan pernah berhenti begitu saja, meskipun sudah melenyapkan seorang pejuang. Namun pejuang lainnya akan tumbul kembali bahkan dengan jumlah yang tidak terbatas. Dengan hal tersebut ternyata terbukti jika banyak pahlawan dan pejuang Indonesia yang timbul dan sampai dengan memerdekakan Indonesia.




Terimakasih sudah mengunjungi situs kami. Jika terdapat kesalahan penulisan pada artikel atau link rusak, menampilkan iklan tidak pantas dan masalah lainnya, mohon laporkan kepada Admin Web (Pastikan memberitahukan link Artikel yang dimaksud). Atau bagi anda yang ingin memberikan kritik dan saran silahkan kirimkan pesan melalui kontak form di halaman Contact Us.