2 Karakter yang harus dimiliki sebagai Manusia dalam Perspektif Islam

Jagad.id – 2 Karakter yang harus dimiliki sebagai Manusia dalam Perspektif Islam. Karakter/Kepribadian manusia dibentuk oleh tindakan yang biasanya ia lakukan hampir sepanjang hidupnya. Dari sudut pandang manusia, jika seseorang terlihat menghabiskan banyak waktu untuk belajar, ia disebut pembelajar. Ini menunjukkan bahwa karakter “Siswa/pelajar” sudah dikaitkan dengannya. Jika seseorang menghabiskan banyak waktu bermain game, karakter yang terkait dengannya adalah karakter “gamers/pemain”.

Selain itu, ada dua karakter utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia ciptaan Tuhan, khususnya kita sebagai umat Islam. Kedua sifat ini adalah sifat hamba-hamba Allah dan umat Rasul ﷺ.
Kita harus memiliki dua karakter ini. Karakter ini akan menuntun orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya untuk bertemu dengan orang-orang yang mereka cintai.

Bagaimana membangun kepribadian hamba Allah dan umat Rasul

Karakter adalah sesuatu yang dibangun melalui kebiasaan. Kebiasaan adalah hasil dari tindakan yang berulang-ulang. Sedangkan kerja adalah buah dari niat yang kuat. Agar karakter ini tertanam dalam diri kita, kita harus membangun kebiasaan beribadah, sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya : “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56).

Pembiasaan ibadah tidak bisa dibangun hanya melalui menjamurnya amalan-amalan ritual, seperti shalat, puasa, sedekah, dll. Sebaliknya, kita harus menjadikan semua pekerjaan kita layak atau dapat bernilai ibadah.
Habib Umar bin Hafiz berkata: “Orang mukmin tidak melakukan perkara-perkara yang mubah.”

Baca Juga : Penjelasan Dalil Maulid Nabi Oleh Gus Baha

Perkataan (tidak melakukan apa yang dibolehkan/mubah) tidak berarti bahwa kita tidak makan, mencuci, mencuci pakaian dan tindakan lain yang diperbolehkan atau diperbolehkan secara hukum, tetapi menjadikan kegiatan ini sebagai sunnah yang bernilai ibadah.

Bagaimana? Kuncinya ada dua: pertama, niat kegiatan untuk mendukung pelaksanaan ibadah. Kedua, meningkatkan etika/adab dalam melakukannya.Jika aktivitas kita disertai dengan niat mendukung ibadah, maka ibadah itu otomatis menjadi ibadah. Jika kita memasukkan sastra dalam kegiatan ini, maka adab/akhlak bernilai ibadah karena meneladani adab/akhlak seorang nabi muhammad ﷺ.

Baca Juga : Serba-serbi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia

Misalnya, ketika kita merasa lapar, kita berniat makan agar kuat dalam beribadah dan mencari nafkah. Kemudian kita terapkan tata krama makan yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, yaitu tidak berlebihan, makan makanan yang terjangkau, minum pelan-pelan, dan tidak menyia-nyiakan makanan. Dengan niat dan tata krama ini, maka aktivitas makanpun bernilai ibadah.

Jika kita mempraktekkan ibadah ritual hanya sebagai syarat akhirat kita, tentu saja ini tidak cukup. Tidak banyak orang yang berdzikir/mengingat setiap tarikan nafas, atau melakukan shalat malam. Oleh karena itu, Allah memberi kita kesempatan yang besar untuk beribadah, sehingga tidur dan minum menjadi ibadah.

Antara lain yang harus dilakukan oleh mereka yang ingin membangun kepribadian/karakter hamba Allah dan umat Rasulullah ﷺ, semoga Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian, adalah menjauhi maksiat. Perbuatan maksiat menyita waktu untuk beribadah , jadi kita harus selalu berusaha menjauhi maksiat karena akan menghilangkan keinginan untuk beribadah.

Baca Juga : Doa Mensyukuri Nikmat Allah

Semoga kita dapat terus mengabdikan diri kepada manusia dengan sifat-sifat hamba Allah dan umat Rasulullah ﷺ, sampai kita bertemu dengannya suatu hari nanti dan tinggal di dekat Rasul-Nya di surga. Aaamiim ya rabbal ‘alamin.

error: This content is protected by DMCA